Share

Meja Operasi

Author: Tinta_Jojon
last update publish date: 2026-05-12 10:16:55

Sementara di belahan dunia lain, di tengah negara yang dilanda konflik, sebuah rumah sakit perdamaian masih berdiri kokoh di antara bangunan-bangunan yang hancur.

Suara sirene bersahutan tanpa henti di seluruh penjuru rumah sakit. Lorong-lorong dipenuhi pasien yang terus berdatangan—sebagian berlumuran darah, sebagian lain menangis menahan rasa sakit—sementara bau obat-obatan bercampur asap mesiu memenuhi udara. Beberapa jam sebelumnya, serangan besar menghantam salah satu distrik di kota itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Calista Adeline: Sang Malaikat Maut   Open Cardiac message

    Untuk sepersekian detik, ruang operasi itu terasa mati. Bunyi panjang monitor menggema nyaring, menusuk keheningan hingga membuat semua orang membeku di tempat mereka. “Siapkan internal paddles, cepat!” perintah Dokter Raka. Perawat instrumen segera bergerak. Sepasang internal defibrillator paddles—dua lempeng logam kecil berbentuk sendok—berpindah ke tangan Dokter Raka dalam hitungan detik. Rongga dada pasien masih terbuka lebar di bawah cahaya lampu operasi. Jantung pucat di dalamnya nyaris tidak bergerak. “Charge dua puluh joule,” ucap Dokter Raka tajam. Dokter anestesi segera memutar pengatur daya pada mesin defibrilator. Bunyi denging pelan terdengar saat listrik mulai terisi. “Daya siap,” ucap dokter anestesi. Dokter Raka langsung menempelkan kedua paddle ke sisi kanan dan kiri jantung pasien. “Clear!” Tubuh pasien terangkat kecil ketika aliran

  • Calista Adeline: Sang Malaikat Maut   Meja Operasi

    Sementara di belahan dunia lain, di tengah negara yang dilanda konflik, sebuah rumah sakit perdamaian masih berdiri kokoh di antara bangunan-bangunan yang hancur.Suara sirene bersahutan tanpa henti di seluruh penjuru rumah sakit. Lorong-lorong dipenuhi pasien yang terus berdatangan—sebagian berlumuran darah, sebagian lain menangis menahan rasa sakit—sementara bau obat-obatan bercampur asap mesiu memenuhi udara. Beberapa jam sebelumnya, serangan besar menghantam salah satu distrik di kota itu.Di tengah kekacauan tersebut, seorang dokter berdiri di area scrub ruang operasi. Air mengalir membasahi kedua tangannya saat ia membersihkan sela-sela jari dengan gerakan cepat dan terlatih."Hei, Dokter Raka..." panggil seorang dokter di sebelahnya yang juga tengah melakukan sterilisasi."Kenapa?" tanya Dokter Raka tanpa mengalihkan pandangan. Busa sabun masih menempel di jemarinya."Hari ini hari terakhirmu di tempat ini, bukan?""Ya, kau benar," jawab Dokter Raka singkat. Ia membilas tangann

  • Calista Adeline: Sang Malaikat Maut   Jejak Ingatan yang Terbawa

    “Nona, berhenti. Jika tidak, aku akan melaporkannya kepada Ayah,” ucap Dirga; suaranya bergetar. Pandangannya terpaku pada pot-pot besar yang melayang, berputar pelan di udara, seolah menunggu aba-aba.“Cih… kau ternyata penakut,” balas Adeline dingin. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Ayahmu tidak akan berani berkata apa pun. Yang ada, dia akan merelakanmu mati di tanganku.”Dirga terdiam. Bahunya turun sedikit, napasnya terlepas panjang. Kedua tangannya perlahan terangkat, telapak menghadap ke depan. “Baiklah… aku akan merelakan tubuh ini,” ujarnya pelan. “Tapi jika aku mati, tidak akan ada lagi yang mengurus semua hal di rumah sakit ini. Apakah kau ingin semua orang mengetahui rahasiamu?”Pot-pot itu bergetar lebih kuat sesaat, lalu berhenti. Adeline mengembuskan napas panjang, jemarinya mengendur.Satu per satu, pot kembali turun ke tempatnya. Tanah yang tercecer jatuh pelan, menyisakan garis kotor di lantai taman.“Benar juga,” gumamnya singkat. Ia menoleh sedikit. “Jadi, ada perl

  • Calista Adeline: Sang Malaikat Maut   Potongan Masa Lalu

    "Lebih baik aku datang menemuinya untuk melaporkan situasi rumah sakit," gumam Dirga, masih menatap layar ponselnya. Ia mengusap pelipis sejenak, lalu menambahkan pelan, "Tapi sebelum itu, mari kita bereskan pekerjaan terlebih dahulu." Dirga bangkit dari sofa. Langkahnya mantap saat kembali ke meja kerja, jemarinya segera merapikan berkas yang berserakan. Layar monitor menyala, memantulkan sorot matanya yang mulai mengeras. Di lantai teratas rumah sakit, suasana yang berbeda terbentang. Sebuah taman pribadi terhampar sunyi. Langit senja meredup dalam cahaya keemasan yang pucat, jatuh diam di antara deretan bunga bermekaran. Adeline duduk diam di bangku taman. Ujung jarinya menyentuh kelopak bunga, menelusuri garis halusnya tanpa benar-benar melihat. Angin tipis menggerakkan rambutnya, namun pandangannya tak berpindah—terpaku pada satu titik yang tak benar-benar ia lihat. "Sudah 1.300 tahun berlalu… dan aku masih di dunia ini," gumamnya lirih. Senyum terukir di wajahnya—tip

  • Calista Adeline: Sang Malaikat Maut   Identitas Tersembunyi

    Pintu lift belum sepenuhnya terbuka ketika kata-kata itu terlepas dari bibirnya.“Sepertinya aku harus bertanya langsung kepada Ayah,” gumam Dirga pelan. Tatapannya kosong, terpantul samar di dinding logam lift. “Apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu Nona Adeline…?”Begitu pintu terbuka, ia melangkah keluar tanpa ragu. Langkahnya cepat menyusuri lorong, seolah pikirannya sudah lebih dulu tiba di tujuan, sementara wajahnya kembali tenang, menyembunyikan kegelisahan yang sempat muncul.Sesampainya di ruangan, ia langsung menuju meja kerja. Laptopnya sudah menyala, menampilkan sistem rumah sakit yang terintegrasi dengan seluruh berkas pasien. Ia menggerakkan kursor, membuka data anak korban kecelakaan itu, dan deretan informasi pun muncul di layar. Ia menelusurinya dengan saksama; matanya bergerak cepat membaca setiap detail.Ia berhenti sejenak, lalu meraih gagang telepon dan menekan satu tombol dengan pasti.“Halo, selamat sore,” terdengar suara dari seberang. “Apakah ada yang bis

  • Calista Adeline: Sang Malaikat Maut   Perintah

    Air menetes dari ujung rambutnya saat Adeline melangkah keluar dari bathtub. Uap tipis masih bergelayut di udara, membungkus tubuhnya yang perlahan kehilangan kilau api biru. Namun ada satu hal yang berubah—rambutnya kini memutih, kontras dengan kulitnya yang pucat.Ia meraih pakaiannya satu per satu dan mengenakannya dengan gerakan tenang. Kancing terakhir terpasang, ia mengangkat dagu sedikit dan mengembuskan napas panjang ke udara. Hembusan itu seolah membawa sesuatu yang tak terlihat. Perlahan, warna putih di rambutnya memudar, ditelan gelap hingga kembali hitam seperti semula.Ia meraih ponsel di atas meja tanpa ragu. Layar menyala, dan dalam hitungan detik, panggilan terhubung.“Dirga, aku sangat lapar. Bawakan makanan kesukaanku seperti biasa.”“Nona… apakah Anda sudah pulih?” suara di seberang terdengar cepat, hampir memotong.Adeline memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali. “Tentu saja,” jawabnya singkat. “Cepatlah. Tidak usah banyak bertanya.”“Baik, Nona,” sahut Di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status