Share

Bab 155

Author: Any Anthika
last update publish date: 2026-08-17 09:09:12

Suasana ruangan kerja Kai masih diselimuti ketegangan usai panggilan telepon penyadapan tadi. Emma dan Kai duduk bergeming di depan monitor, mencoba menyusun rencana selanjutnya.

Tiba-tiba, layar ponsel pribadi Emma yang tergeletak di atas meja menyala terang. Suara notifikasi pesan masuk memecah keheningan yang ada..

Emma mengerutkan kening. "Siapa yang kirim pesan jam segini?"

"Coba periksa," timpal Kai seraya menoleh penasaran.

Emma meraih ponselnya. Begitu membaca nama pengirimnya, alis
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 171

    Suasana makan di warung Pak Kumis berlangsung sangat seru dan penuh gelak tawa. Kai dan Arsen yang biasanya tampil necis dan dingin di lingkungan kampus, kini sibuk mengusap keringat di dahi mereka yang bercucuran deras gara-gara kuah bakso super pedas."Aduh, nikmat bange emang nih bakso aplagi kuahnyat!" seru Emma gembira, menyantap baksonya dengan lahap. Bibirnya yang semula pink alami kini berubah merona merah, basah, dan agak merekah akibat efek rasa pedas yang membakar.Arsen yang sedang mengunyah bakso mendadak menghentikan gerakannya. Pandangannya mengunci lurus pada wajah Emma, khususnya pada bibir ranum gadis itu yang berkilau terkena kuah pedas dan memerah sempurna.Pemuda itu menelan salivanya dengan susah payah. pikirannya mendadak melayang ke mana-mana. Dadanya berdesir hebat, membayangkan betapa hangat dan nikmatnya jika dia bisa melumat bibir merona itu sekarang juga, menyesap rasa pedas dan manis yang menyatu di sana."Arsen? Kok malah melamun?" tegur Emma sambil m

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 170

    Mobil pun melaju meninggalkan area parkir kampus yang makin sepi. Di dalam mobil, hening sejenak sebelum Emma yang duduk di samping Kai menoleh ke belakang, menatap Arsen yang sedang bersandar santai. "Kamu laper kan, Arsen?" tanya Emma. "Kok tahu sih? Iya, aku laper banget, Emma. Dari siang cuma ganjal sosis panggang doang," jawab Arsen sambil memasang raut wajah memelas. Nafsu makan pemuda itu sudah melampui nafsu makan manusia normal. Camilan yang biasanya tersedia dalam tas, kini sudah habis tak tersisa. "Kak Kai, mumpung kita lewat daerah tempat sekolah SMA-ku yang dulu, mampir ke Warung Bakso Pak Kumis yuk!" usul Emma dengan mata berbinar-binar. "Wah boleh tuh. Enak ya makanan di sana?" "Super duper enak, menurutku. Lagian, aku kangen banget makan bakso urat super pedas di sana." Kai langsung menoleh sekilas ke arah adiknya dengan senyuman hangat. "Boleh banget, Dek! Aku juga cicip dan nemenin kamu makan bakso langganan kamu itu.""Asik! Makasih, Kak.""Tapi ingetin

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 169

    "Apaan sih? Berisik banget!" ucap Arsen sinis. "Arsen! Lo beneran udah dibutakan sama cewek ini?!""Buta? Sejak kapan gue buta gara-gara Emma?""Dulu lo di The Crown paling rasional, sekarang lo mau-mau aja dituntun kayak kerbau dicocok hidungnya!" sentak Olivia kesal. Arsen menaikkan sebelah alisnya, tersenyum amat tipis. "Daripada dituntun sama iri dengki kayak lo? Upgrading otak itu gratis loh, Oliv." "Brengsek lo," maki Olivia. "Lah, kok malah maki gue. Eh, harusnya dari kemarin lo coba, biar nggak usah bayar orang lima juta cuma buat ngerusak acara yang ujung-ujungnya tetep sukses besar." "Lo ..." Olivia menganga, kehabisan kata-kata saat sindiran pedas itu menghantam gengsinya telak. Emma akhirnya melangkah maju, menatap Olivia dengan raut tenang. "Olivia, daripada kamu habis energi marah-marah di parkiran yang berdebu ini," bisik Emma lembut, tapi intonasinya penuh penekanan. "Apa maksudmu?" balas Alicia tajam. Dia tidak suka Emma mengintimidasi Olivia sahabatnya. "K

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 168

    "Gue baru aja ngobrol sama Dekan lima menit yang lalu, Olivia," ujar Arsen santai, tapi tiap katanya menusuk bagai belati. Dia lalu berdiri si samping Emma dan Kai Alicia tertawa terbahak-bahak seolah Emma, Arsen dan Kai adalah badut-badut lucu yang sedang menghiburnya. "Hah! Silakan tertawa sepuasnya selama lo masih bisa. Bukti rekaman suara mahasiswa sewaan lo yang ngaku disuap lima juta sama lo udah masuk ke meja komite kampus." "Nggak percaya gue. Lagak banget, sok dekat ama dekan aja lo," ejek Noami meremehkan ucapan Arsen. "Emang dekan mau ngapain kalau lo ngobrol sama dia, Arsen?" Bibir Alicia yang seperti habis disengat lebah atau salah pakai suntikan silikon, semakin monyong saat dia mencibir ke arah Arsen. "Hmm, kasih tahu nggak ya?" ucap Arsen dengan gaya menggoda. "Alaaaaah! Bilang aja lo omong besar." Arsen menarik napas panjang, lalu menatap ketiga gadis itu. "Dengar ya. Gue udah serahkan semua bukti ke komita kampus. Sebentar lagi kalian akan mendapat kejutan d

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 167

    "Makasih ya, Arsen. Ini juga kan berkat kerja keras tim dan bantuan kamu sama teman-teman yang lain," balas Emma tulus. "Jangan lupa pujian buat aku dong, Dek!" sela Kai tak mau kalah sambil merangkul pundak Emma.Arsen hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Kai. "Tanpa keahlian mc dan pengawasan ketat dari kakakmu yang ganteng ini, acara bisa oleng!" "Iya, iya, Kak Kai terhebat deh!" tawa Emma pecah.Setelah pidato rektor yang membakar semangat usai, panggung diambil alih oleh pertunjukan-pertunjukan spektakuler. Mulai dari atraksi modern dance yang energized, penampilan band kampus yang membawakan lagu-lagu hits, hingga peragaan busana kreasi mahasiswa yang estetik. Di sela-sela acara, Kai sibuk membagikan kupon makanan sponsor ke panitia yang kelelahan. "Ayo, ayo! Makanan gratis! Jangan sampai ada panitia yang pingsan gara-gara kelaparan!" "Kak Kai, jangan dihabisin sendiri burger yang rasa blackpepper itu ya!" teriak Emma dari meja kontrol suara. "Tenang, Dek! Udah ak

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 166

    "Siapa orangnya?" tanya Kai tajam. Arsen menunjuk mahasiswa di depannya. "Dia orang suruhan Olivia yang iri karena Emma dipercaya untuk mimpin acara besar ini. Mahasiswa itu langsung menangis ketakutan. "Maaf! Maaf! Saya cuma disuruh! Olivia bakal kasih saya duit lima juta kalau saya rusakin acara yang ada!" Kai langsung menyeret mahasiswa itu menuju pihak keamanan kampus, sementara Arsen melangkah mendekati Emma untuk memastikan kondisinya aman. BZZZZ... Layar monitor utama stan mendadak menyala kembali. Lampu indikator proyektor berubah hijau terang. Raka berdiri kembali setelah merapikan peralatan, lalu menyapu keringat di dahinya dengan punggung tangan. "Listriknya udah nyala lagi," ujar Raka pelan pada Emma. "Dan buat file-file lo yang terhapus, gue sempet backup data server kampus tadi pagi waktu gue belajar di lab. File lo aman." Raka merogoh sakunya dan meletakkan sebuah flashdisk hitam di atas meja Emma. Emma menatap flashdisk itu, lalu beralih menatap Raka. Ada ra

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 21

    Keputusan itu tak menunggu lama untuk diberitahukan kepada Emma.Kini, ia kembali duduk di tempat yang sama, dengan punggung tegak menegang. Kedua tangannya menggenggam erat, menguatkan dirinya sendiri untuk mendengar hal yang paling buruk sekalipun.Di hadapannya, dosen dan para staf berjejer deng

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 20

    Ruang Kemahasiswaan terasa lebih dingin dari biasanya. Emma duduk di salah satu kursi, punggungnya tegak, tangannya saling menggenggam di pangkuan. Di depannya, meja panjang membentang, memisahkan dirinya dengan Naomi, Olivia, Alicia dan mahasiswa-mahasiswi yang ikut dalam perang saling melempar m

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 19

    Beberapa orang langsung bergerak mendekati Emma. Kursi bergeser kasar, suara langkah tergesa mengelilingi Emma. Suasana yang tadinya cuma panas berubah jadi seperti menunggu ledakan besar. Mereka tidak akan melepaskannya begitu saja. Namun, yang terjadi sebaliknya, Emma bukannya mundur. Ia tidak l

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 7

    Bab 7Emma yang tadinya siap marah, langsung berhenti di tempat. Ia memicingkan mata, berusaha melihat jelas wajah pemilik suara itu.Dan detik berikutnya, hidupnya terasa makin kacau. “Kai?” ucap Emma kaget sekaligus melongo. Dari semua manusia di muka bumi, kenapa harus dia?Kai. Salah satu angg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status