Malam ini, aula pesta pernikahan kolega orang tuanya bermandikan cahaya keemasan dari lampu kristal yang menggantung megah. Rosa berdiri di sana, terbungkus gaun anggun, namun merasa seperti pajangan yang tak bernyawa. Orang tuanya telah lebih dulu membaur dengan para elit, meninggalkan Rosa di bawah penjagaan sosok yang paling ia hindari, Bima. Rosa menelan napas berat. Di sampingnya, Bima berdiri dengan postur sempurna. Setiap gerakannya terasa seperti koreografi yang dilatih dengan hati-hati, terlalu presisi, terlalu palsu. Namun, di mata publik, Bima adalah definisi pria idaman.“Cantik sekali kamu malam ini, Rosa,” sapa seorang wanita dengan nada hangat. Itu Mama Bima, menatapnya dengan binar bangga yang seolah sudah menganggap Rosa sebagai aset berharga keluarganya.“Terima kasih, Tante,” jawab Rosa.Bibirnya tersenyum, namun matanya mati. Ada rasa mual yang bergejolak di ulu hatinya setiap kali ia harus bersandiwara seperti ini. Bima menggenggam tangan Rosa, meremasnya dengan
Last Updated : 2026-05-17 Read more