Sesaat bibir Rosa bergetar. Namun, getaran itu bukan lagi sisa tangis, melainkan bara kemarahan yang mulai mendidih di balik dadanya.“Kalau begitu, Bima” Ia menarik napas panjang, membiarkan oksigen mendinginkan kepalanya sejenak. Matanya menajam, menghujam tepat ke manik mata Bima. “Kamu akan segera tahu seberapa jauh aku bisa melangkah untuk melawanmu, bahkan jika aku harus berdiri sendirian menghadapi dunia.”Bima tertegun. Senyum kemenangan yang sempat tersungging di bibirnya memudar, digantikan oleh kerutan ragu yang tipis. Namun, sebelum pria itu sempat bersuara, Rosa sudah berbalik, langkah kakinya tegas meninggalkan pembicaraan.“Kamu akan tetap jadi milikku, seutuhnya. Jangan kekanak-kanakan begitu, Sayang,” bisik Bima. Suaranya rendah, namun penuh nada posesif yang memuakkan.Rosa yang belum siap dengan gerakan tiba-tiba itu, terhuyung saat Bima merenggut lengannya dan menariknya masuk ke dalam pelukan paksa. Aroma parfum Bima yang tajam menyerbu indra penciumannya, menc
Huling Na-update : 2026-05-07 Magbasa pa