“I’m okay, Dad,” jawab Blaire, menegaskan dengan nada sedemikian rupa agar ayahnya percaya.Obrolan pun terhenti seketika. Di ruangan luas itu hanya ada Ben, Blaire, Marcel, dan asisten Marcel. Keheningan canggung perlahan merayap dan menguasai atmosfer. Sampai akhirnya ponsel asisten Marcel berdering panjang, memecah kesunyian dengan nada panggil nyaring tanda ada panggilan masuk yang mendesak. Pria itu pun segera menggeser layar dan menjawab panggilan.Tak lama kemudian, sang asisten menghampiri Marcel dan membisikkan sesuatu secara berhati-hati di telinganya. Marcel mengangguk samar, namun tatapannya yang penuh pertimbangan terarah kembali pada Blaire dan Ben yang masih sibuk di sofa.“Ben, kau bisa menjaga Blaire?” tanya Marcel tiba-tiba, memecah keputusannya.“Of course,” jawab Ben singkat dan tanpa ragu sedikit pun.“Dad, kalau Dad memiliki urusan, Dad tidak perlu menunda urusan Dad karena aku. Aku baik-baik saja,” imbuh Blaire cepat seraya balas menatap Marcel, tidak ingin menj
Read more