Tak terasa, satu bulan telah berlalu. Waktu terus berjalan tanpa meminta izin kepada siapa pun. Luka yang sempat menganga perlahan memang mulai mengering, tetapi bekasnya masih tertinggal jelas di dalam hati kami. Kepulangan Dara dan Tami menjadi mukjizat yang rasanya tak pernah berhenti kusyukuri setiap selesai salat. Rumah yang beberapa bulan lalu dipenuhi tangisan akhirnya kembali mengenal tawa. Meski begitu, setiap kali melihat Dara berlari kecil di lorong rumah sambil memanggil nama Kang Epen, dadaku selalu berdesir. Aku tahu, kami nyaris kehilangannya untuk selamanya.Sebagai bentuk rasa syukur, Emak mengusulkan acara makan bersama keluarga sederhana di rumah. Tidak ada pesta mewah. Hanya doa bersama, makan siang, lalu bercengkerama seperti keluarga pada umumnya. Setelah semua yang kami lewati, kebersamaan seperti itu terasa jauh lebih mahal daripada jamuan di hotel berbintang.Sejak pagi rumah sudah ramai. Aroma opor ayam, rendang, sambal goreng ati, dan gepuk memenuhi seluru
Read more