Aku terduduk lemas di tepi kasur. Pikiranku masih berusaha mencerna semua yang baru saja kudengar. Bara, Zahra, kehamilan, pernikahan, dan Dara. Rasanya seperti seseorang baru saja membuka pintu menuju masa lalu yang selama ini terkunci rapat. Perlahan, kenangan itu kembali. .... Dulu kami bertiga nyaris tidak pernah terpisah. Aku, Zahra, dan Bara. Kalau ada siswa baru yang masuk sekolah saat itu, kemungkinan besar mereka akan mengenal kami dalam minggu pertama. Bukan karena aku istimewa. Tapi karena dua sahabatku memang terlalu mencolok untuk diabaikan. Zahra adalah gadis cantik yang bahkan guru-guru pun menyayanginya. Pintar, ramah, percaya diri, dan berasal dari keluarga berada. Sementara Bara .... Yah, Bara adalah tipe laki-laki yang membuat banyak siswi rela datang lebih pagi hanya untuk melihatnya masuk gerbang sekolah. Tinggi, tampan, pintar, pandai berbicara, dan selalu tahu cara membuat orang menyukainya. Di antara mereka berdua, aku seperti tempelan bonus. Anak
Ler mais