Malam sudah semakin larut ketika kami sampai di rumah. Meski lelah dan penat dirasakan, tapi aku justru tidak langsung masuk ke kamar. Langkahku berhenti di depan pintu kamar Dara. Tanganku menggantung di gagang pintu beberapa detik. Akhir-akhir ini terlalu banyak hal yang terjadi. Kuliah. Restoran. Bara. Masa lalu Zahra. Pertengkaranku dengan Kang Epen. Dan tanpa kusadari, ada satu hal yang perlahan terlewat. Dara. Aku mendorong pintu perlahan. Lampu tidur berbentuk bulan menyala temaram di sudut ruangan. Dan ternyata Dara belum tidur, gadis itu tampak sedang tengkurap di atas kasur sambil menggambar sesuatu di buku gambarnya. Begitu melihatku masuk, wajahnya langsung berbinar. "Mama Dina!" Aku tersenyum. "Kenapa belum tidur, udah jam 9?" tanyaku. Dara menggeleng cepat. "Belum ngantuk, Ma. Nggak tahu kenapa." Aku naik ke atas kasur lalu berbaring menyamping di sampingnya. "Gambar apa emangnya?" Dara membalik bukunya dengan bangga. "Gambar Dara sendiri." Aku menatap gam
Read more