Kini tersisa kami bertiga. "Hatur nuhun pisan, ya, Kasep. Semenjak nikah sama Jang Epan, si Teteh jadi lebih sering ngirim uang. Belum ada sebulan tapi Emak ngerasa kebantu pisan. Maaf kalau Dina banyak kekurangan, kita emang orang nggak punya. Kadang tradisi sama kebiasan juga beda. Jadi, harap dimaklumi." "Nggak apa-apa, Bu. Saya juga banyak kurangnya. Yang penting kita bisa saling melengkapi." Kek orang bener kalau ngomong situ, Kang! Padahal kenyataannya kita bukan saling melengkapi, tapi saling membully, mengejek, dan menyakiti. Tapi, nggak apa-apa. Walaupun ucapan Kang Epen tak sepenuhnya benar, selama apa yang dia katakan mampu membuat hati Emak tenang, aku tak masalah bila harus korban perasaan. "Kalau gitu Emak permisi ke belakang sebentar, ya." Aku dan Kang Epen mengangguk hampir bersamaan. "Makan apaan kamu lembek-lembek begitu?" Kang Epen tiba-tiba bertanya saat aku mencampurkan uli ketan dengan tumis sisa kemarin. Dia mengernyitkan dahi seolah he
اقرأ المزيد