"Kamu itu sebenarnya cantik, cuma ...." Kang Epen membuka percakapan setelah sekian lama keheningan menyelimuti kami di gubuk derita ini. "Cuma apa?" Aku langsung menoleh dengan mata memicing. "Nggak menarik? Nggak semok? Nggak montok? Nggak tinggi? Nggak punya duit?!" desakku kemudian. "Kok nyolot?" Kang Epen mengerutkan kening. "Habisnya ... kalau mau muji ya muji aja, nggak usah pake embel-embel cuma, tapi, sayangnya--pretlah! Manusia itu nggak ada yang sempurna, kalau ada kelebihan pasti ada kembalian. Cewek cantik, semok, bohai, de-el-el itu nggak akan ada habisnya, Kang. Makanya jadi orang itu bisanya jangan cuma nuntut, tapi introspeksi juga. Manusia kalau cuma ngandelin hawa nafsu, sampai kapan pun nggak akan pernah puas!" "Loh, kok sensi? Kamu nggak lagi PMS, kan? Padahal saya beneran mau muji." Entah kenapa wajahnya tampak meyakinkan tapi di satu sisi juga menyebalkan. Entahlah aku pusing menerka-nerka isi kepala lelaki ini. "Ya udah, lanjutin! Mau muji apa ta
اقرأ المزيد