"Dah lama nunggu, Teh?" Kuhampiri wanita seksi montok yang duduk di salah satu bangku dalam kedai Starbucek, setelah membawa pesanan dari meja barista. "Lumayan. Untung gue lagi free, kalau nggak mana mau gue nunggu orang gajelas kayak lu." Aku hanya nyengir, lalu menyodorkan Caramel Macchiato pesanannya sementara aku memesan Hazelnut Latte. Dia adalah Teh Lola, wanita malam yang waktu itu mengantar Kang Epen pulang. Aku sempat save nombernya siapa tahu dibutuhkan, dan benar saja, sepertinya alam merestui agar aku berguru pada wanita panas ini untuk 'memancing' Kang Epen agar bersedia membuahi rahimku sebelum bulukan. "Jadi, apa keluhan lu?" "Jadi, gini, Teh. Suami saya mau nganu, tapi dia nggak mau kalau saya sampe hamil. Gimana caranya supaya saya bisa jebak dia biar kebobolan?" Wanita berpakaian ketat itu mangut-mangut. Dia menyeruput minumannya, dan tampak berpikir. "Waktu lu berapa lama?" Aku mengerucutkan bibir. "Kurang dari seminggu." "Gawat kalau begitu. Ki
Read more