Martin benar-benar lelah. Kepalanya serasa mau pecah, dihantam rasa malu, amarah, dan kenyataan pahit yang mengepung hidupnya. Setelah melemparkan kebenaran yang menampar itu, Martin berbalik dan melangkah pergi tanpa memedulikan Leli yang masih terpaku bagai patung. Pria paruh baya itu sadar, penjelasan selogis apa pun tak akan pernah mampu menembus benak istrinya yang sudah tertutup oleh ego dan kebodohan.Namun malam ini, Martin tak melangkahkan kakinya menuju kamar tamu yang biasa ia tempati, ataupun menyendiri di ruang kerjanya yang dingin. Dengan tatapan kosong, ia menyambar kunci mobil, berjalan ke garasi, dan menyalakan mesin."Martin! Kau mau ke mana?!" jerit Leli yang mendadak tersadar dari syoknya. Wanita itu berlari kencang memutari kap mesin, berdiri di depan mobil untuk menghadang jalannya.Martin menurunkan kaca jendela, menatap Leli dengan pendar mata yang sudah mati rasa. "Aku sangat lelah, Leli. Aku butuh tempat untuk menenangkan diri.""Bohong! Kau bukan lelah, Mart
Read more