LOGINPagi itu, Liora melangkah dengan penuh semangat membelah area pusat perbelanjaan mewah. Di sampingnya, Bibi Nina berjalan dengan langkah agak ragu. Wajah wanita paruh baya itu tampak pucat pasi, matanya sibuk melirik ke kanan dan ke kiri melihat jajaran pengawal yang bertugas di depan butik perhiasan dan emas batangan ternama di mal tersebut."Liora... kamu beneran mau beli emas sebanyak itu hari ini?" bisik Bibi Nina bergetar, meremas tali tasnya erat-erat. "Bibi mendadak jantungan. Uang yang kamu bawa ini tidak main-main. Kalau ada perampok atau orang jahat bagaimana?"Liora justru menoleh dan menyunggingkan senyum polos yang amat manis. "Tenang saja, Bi. Aku sudah memperhitungkan semuanya kok."Namun, rasa cemas Bibi Nina sudah mencapai puncaknya. Secara sembunyi-sembunyi saat Liora memandangi etalase kaca, Bibi Nina merogoh ponselnya dan mengirimkan pesan singkat pada Xavier.Tuan Xavier, tolong! Liora nekad mau beli emas dalam jumlah sangat besar hari ini di butik utama. Saya san
Suasana di ruang kerja pribadi Martin terasa begitu menyesakkan. Di atas meja kerjanya, setumpuk dokumen, laporan keuangan, dan berita-berita miring tentang skandal di restoran malam itu berserakan tanpa arah. Wajah Martin tampak kuyu, matanya cekung, dan rambutnya yang sudah mulai beruban terlihat berantakan. Hidupnya benar-benar hancur dalam sekejap.Brak!Pintu kayu jati berukuran besar itu terbuka tanpa diketuk.Martin terlonjak kaget dari kursi kebesarannya. Napasnya tercekat manakala melihat sosok pria dengan setelan jas hitam rapi melangkah masuk dengan aura dominan yang langsung mencengkeram seisi ruangan. Xavier Dominic.Tanpa dipersilakan, Xavier langsung menarik kursi di hadapan meja Martin dan mendudukkan diri dengan angkuh. Pria itu menyilangkan kaki, menatap Martin dengan manik mata elang yang dingin setajam silet."Kamu..." suara Martin tercekat di tenggorokan. "Xavier, ada urusan apa kamu menerobos masuk ke ruanganku?!"Martin memandang calon menantunya itu dengan kesa
Liora menatap Bibi Nina dengan pendar mata mengagumi. "Bibi... kok pintar sekali, sih?"Bibi Nina terkekeh halus. "Bibi memang tidak pernah duduk di bangku sekolah , apalagi kuliah tinggi seperti kamu, Liora. Tapi pengalaman hidup itu juga sebuah sekolah."Liora menyunggingkan senyum tulus. "Berarti selama ini Bibi sudah memikirkan semua hal ini untukku?""Tidak semuanya...""Terus?""Bibi cuma tahu satu prinsip dasar.""Apa itu, Bi?""Uang yang sangat banyak, kalau tidak dijaga dengan akal sehat, bisa habis lebih cepat daripada yang kamu bayangkan."Senyum manis Liora perlahan surut, berganti dengan raut kepahaman yang mendalam. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia menyadari secara utuh bahwa memiliki kekayaan berlimpah bukanlah tentang kebebasan membeli apa saja yang diinginkan. Justru semakin besar harta yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab moril untuk menjaga dan mengelolanya dengan bijak."Jadi..." Liora kembali menatap layar ponselnya dengan sudut pandang baru. "Aku
Malam itu, Liora duduk termenung di sofa empuk ruang keluarga rumah Bibi Nina. Matanya menatap layar ponsel. Di aplikasi mobile banking-nya, tertera deretan angka dengan jumlah fantastis yang kerap membuatnya mengedipkan mata berkali-kali. Terkadang, ia masih merasa sedang melihat angka tabungan milik orang lain.Liora mengerutkan keningnya yang mulus. "Uang sebanyak ini sebenarnya harus diapakan, sih?"Tak lama kemudian, Bibi Nina melangkah mendekat membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat aromatik. Wanita paruh baya itu meletakkan salah satu cangkir di hadapan Liora, lalu mendaratkan tubuhnya di samping gadis itu."Kamu menginap di sini?" Bibi Nina bertanya dengan wajah berseri-seri. "Iya Bibi. Kondisi di kediaman papi Martin sangat tidak baik.. papi tidak pulang ke rumah. Ya aku juga males. Karena itu lebih enak di sini. Aku bisa bermain boneka terus tidur berdua dengan bibi.""Gimana acara makan malamnya?""Berakhir heboh. Mami mengamuk di restoran karena selain kami, ada rek
Mobil sedan mewah berwarna hitam berkilau itu berhenti perlahan tepat di pelataran rumah Bibi Nina. Xavier mematikan mesin, lalu memutar tubuhnya menghadap calon istri kecil yang duduk di sampingnya.Liora yang baru saja hendak meraih gagang pintu mendadak menghentikan gerakannya saat jemari hangat Xavier melingkar lembut di pergelangan tangannya."Mau terburu-buru ke mana, hm?" bisik Xavier dengan suara bariton yang teramat dalam dan serak.Liora menoleh, mendapati tatapan mata elang Xavier yang malam ini terpancar begitu hangat dan intens. "A-aku mau masuk... Kan sudah sampai di rumah Bibi Nina."Xavier tersenyum tipis—sebuah senyum langka yang selalu berhasil melumpuhkan pertahanan Liora. Pria itu mengikis jarak, mengusap pelan pipi Liora dengan buku-buku jarinya yang hangat, lalu menyematkan sisa helai rambut gadis itu ke belakang telinga."Tidak ada ciuman selamat malam untuk calon suamimu?" goda Xavier rendah, menatap lurus ke dalam manik mata Liora.Seketika, rona merah padam m
Martin benar-benar lelah. Kepalanya serasa mau pecah, dihantam rasa malu, amarah, dan kenyataan pahit yang mengepung hidupnya. Setelah melemparkan kebenaran yang menampar itu, Martin berbalik dan melangkah pergi tanpa memedulikan Leli yang masih terpaku bagai patung. Pria paruh baya itu sadar, penjelasan selogis apa pun tak akan pernah mampu menembus benak istrinya yang sudah tertutup oleh ego dan kebodohan.Namun malam ini, Martin tak melangkahkan kakinya menuju kamar tamu yang biasa ia tempati, ataupun menyendiri di ruang kerjanya yang dingin. Dengan tatapan kosong, ia menyambar kunci mobil, berjalan ke garasi, dan menyalakan mesin."Martin! Kau mau ke mana?!" jerit Leli yang mendadak tersadar dari syoknya. Wanita itu berlari kencang memutari kap mesin, berdiri di depan mobil untuk menghadang jalannya.Martin menurunkan kaca jendela, menatap Leli dengan pendar mata yang sudah mati rasa. "Aku sangat lelah, Leli. Aku butuh tempat untuk menenangkan diri.""Bohong! Kau bukan lelah, Mart
Liora melangkah kembali ke ruang makan dengan penampilan yang jauh lebih segar. Gaun berpotongan anggun pemberian Dion semalam kini melekat pas di tubuhnya. Liora sengaja memakainya pagi ini bukan karena ia mendadak menyayangi kakaknya, melainkan sebagai bentuk apresiasi atas kepedulian Dion yang
Seketika itu juga, hawa di dalam mobil mendadak turun drastis menjadi sedingin es.Xavier melirik spion tengah dengan tatapan mata yang tajam dan menusuk. "Jika kau tertawa sekali lagi, bonus tahunanmu akan aku potong habis!"Satu kalimat ancaman itu meluncur dengan nada sangat datar, namun efeknya
Pagi-pagi sekali Liora sudah bangun.Langit bahkan masih sedikit gelap ketika gadis itu membuka mata.Kebiasaan itu sudah melekat sejak lama. Sejak tinggal di desa bersama Bibi Nina. Dan semakin tertanam ketika ia berada di dalam tahanan.Di sana— terlambat bangun satu menit saja bisa menjadi masal
Liora melangkah masuk ke dalam rumah dengan tenang.Suasana mansion itu sangat sunyi.Terlalu sunyi.Ia membuka pintu perlahan sambil melepas heels yang sejak tadi membuat kakinya tidak nyaman.Namun—Brak!Sebuah asbak rokok melayang cepat ke arahnya.Liora bahkan belum sempat bereaksi.Seseorang







