“Nanti juga kamu tahu, Din... hehehe!”Adara tertawa kecil sambil berjalan di samping Udin. Senyumnya tampak nakal, membuat Udin semakin salah tingkah.“Itu tukang mi ayamnya!” seru Udin tiba-tiba.Ia menunjuk sebuah warung tenda di pinggir jalan seolah baru saja menemukan jalan keluar dari situasi paling genting dalam hidupnya.Di bawah lampu bohlam yang menggantung dari tiang bambu, uap panas mengepul dari panci besar. Aroma kaldu ayam, bawang putih, daun bawang, dan pangsit goreng bercampur dengan udara malam.Ujang dan Anjani sudah duduk lebih dahulu.“Lama amat?” tanya Ujang ketika melihat mereka datang.“Jangan ditanya,” jawab Udin sambil duduk. “Aku malah hampir kehilangan bakso.”Ujang mengernyit.“Dapat belum?”“Dapat apaan?” Udin melotot. “Malahan tuh cewek mau nyicipin bakso aku.”Adara langsung tertawa. “Cuma dua kok, Din bakso kamu yang mau aku cicipin.”“Kan aku lapar, Ra!” Udin melirik Adara dengan kesal. “Masa bakso aku mau dicicipin juga?”Ujang terkekeh. “Mungkin dia
Baca selengkapnya