Ujang langsung terlelap begitu punggungnya menyentuh kasur. Rasa lelah yang sejak tadi menumpuk seolah menunggu kesempatan untuk menjatuhkannya. Dalam hitungan detik, napas pemuda itu berubah teratur. Wajahnya yang semula tegang perlahan mengendur, sementara satu tangannya masih tergeletak di atas selimut.Anjani sebenarnya berniat segera kembali ke kamar sendiri. Namun, ketika Adara mengajaknya berbicara, langkahnya tertahan. Satu topik berubah menjadi topik lain. Mereka membicarakan restoran, rencana perjalanan, keadaan desa, sampai hal-hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu penting.Waktu berlalu tanpa terasa.Lampu kamar Adara memancarkan cahaya kekuningan. Di tengah suasana tenang itu, Anjani terus tertawa menanggapi cerita Adara.Baru setelah hampir dua jam, ia tersentak.“Aduh!” Anjani menepuk dahinya. “Kenapa aku jadi keenakan ngobrol?”Ia segera berdiri, merapikan rambut, lalu melirik jam di dinding.“Kalau aku gak segera kembali, Ujang pasti sudah tidur.”Adara ikut bangkit
Baca selengkapnya