Ujang buru-buru merapikan kemejanya yang kusut. Rambutnya yang berantakan disisir seadanya dengan jari. Tadinya ia hendak mandi setelah Maisaroh pulang, tetapi ketukan di pintu membuat rencananya berantakan.Siapa lagi pagi-pagi begini?Ia mengembuskan napas, lalu berjalan menuju pintu depan yang masih miring akibat kerusakan beberapa hari lalu.Begitu pintu dibuka, Ujang langsung mengernyit.Seorang perempuan berdiri di hadapannya.Usianya sudah memasuki tiga puluhan, tetapi wajahnya masih tampak terawat. Kulitnya bersih, sorot matanya tajam, dan senyum tipis di bibirnya membuat Ujang seketika mengenali sosok tersebut.“Bu Imah?”Perempuan itu tersenyum.“Masih ingat sama Ibu ternyata.”“Mana mungkin lupa?” Ujang tertawa kecil. “Sudah lama Ibu gak datang.”Memang sudah cukup lama Ujang tidak bertemu Imah. Pertemuan terakhir mereka terjadi ketika Amelia gagal membeli swike dan berbagai urusan kampung membuat perhatian Ujang teralihkan.“Boleh Ibu masuk?”“Boleh. Silakan.”Ujang bergese
Mehr lesen