Saat kembali dari membeli keran air, Juminten sudah selesai mandi dan memakai pakaian tidur yang agak tipis, membuat seluruh tubuhnya yang kin harum oleh wangi sabun dan parfum mengusik jiwa Ujang kembali.“Aku ini kenapa sih? Tertarik sama Kak Juminten tapi tidak berani menuntaskannya,” pikir Ujang sambil memasang keran baru.“Jang.”Suara Juminten membuat Ujang tersadar dari lamunannya.“Kakak lupa kasih uang buat beli keran tadi.”Ujang mengedipkan mata, lalu tersenyum canggung.“Gak apa-apa, Kak. Malahan Ujang sudah beli sesuatu buat Kakak.”Ia segera berbalik dan berlari kecil menuju motor Udin yang terparkir tidak jauh dari rumah. Beberapa detik kemudian, Ujang kembali membawa kantong kresek berisi kotak martabak telur. Aroma gurih telur, daging, daun bawang, dan bawang goreng langsung menyebar begitu tutup kotaknya sedikit terbuka.Mata Juminten berbinar. “Wuih! Martabak telur?”Ujang mengangguk. “Martabak telur kesukaan Kak Jum.”Juminten menyilangkan tangan di dada. “Pasti bua
Read more