Ketukan itu terdengar lagi.Tok. Tok. Tok.Juleha mundur setengah langkah. Wajahnya yang semula hanya tampak kesal kini berubah pucat. Jari-jarinya mencengkeram ujung baju Ujang.“Jang…” bisiknya. “Suara itu.”Ujang menatap pintu depan. Di balik kayu tua tersebut, tidak terdengar langkah kaki, napas, atau suara kendaraan. Hanya angin sore yang menyusup melalui celah-celah dinding, membawa aroma tanah basah dan daun pisang.Namun, suara lelaki tua tadi masih menggantung di udara.“Ujang… kita perlu bicara.”Udin segera bergerak mendekati jendela. Ia mengintip dari sela tirai, tetapi halaman rumah tampak kosong. Para pekerja yang tadi sibuk membawa papan dan semen telah berhenti bekerja. Beberapa berdiri jauh di dekat pagar, saling berbisik dengan wajah tegang.“Tidak ada siapa-siapa,” ujar Udin.“Kalau tidak ada siapa-siapa, siapa yang mengetuk?” tanya Juleha.Udin terdiam.“Pertanyaan bagus,” gumamnya. “Sayangnya aku tidak punya jawaban.”Ujang mengangkat tangan, memberi isyarat agar s
Baca selengkapnya