“Kamu tunggu kami di Hotel Samudera Horizon saja, Din!” kata Kailen tiba-tiba.Udin yang baru saja hendak mengikuti Ujang langsung menghentikan langkah. “Hah?”Kailen menatapnya serius. “Aku rasa lebih aman kalau kamu menunggu kami di hotel saja.”“Kok aku enggak boleh ikut?” Wajah Udin langsung berubah kecewa. Alisnya turun, bibirnya mengerucut seperti anak kecil yang baru kehilangan jatah makan.Ujang hampir tertawa. Namun, ia segera memberi kode kecil kepada Kailen.Kailen menangkap maksudnya.“Bukan enggak boleh ikut, Din,” ujar Ujang. “Kata Kak Kailen tadi, Sheila minta bantuan kamu.”Udin langsung menoleh kepada Kailen. “Serius?”“Iya.” Kailen memasang wajah setenang mungkin. “Tadi Sheila mengirim pesan. Katanya dia butuh bantuanmu.”“Bantuan apa?” tanya Udin dengan penuh harapan. Ia tahu hubungannya dengan Adara sudah tak bisa diperbaiki lagi, tapi masih ada harapan dengan Sheila.“Entahlah. Kalau kamu mau menolaknya, sekarang juga aku balas pesannya.” Kailen mengangkat ponsel s
Read more