MasukArkana masih memandang Anindya yang menggenggam tangannya."Kita butuh bicara," kata Anindya. Lelaki itu menghela napas pelan, kemudian melirik jam dinding yang tergantung di seberang ranjang. "Apa tidak bisa besok saja?"Anindya langsung menggeleng. "Tidak."Arkana kembali menatapnya. "Anin, aku baru sadar setelah sepuluh hari tidak sadarkan diri. Aku masih lelah.""Aku tahu.""Kalau begitu, kita bicara besok saja.""Tidak, Arkana. Kita butuh bicara sekarang."Nada suara Anindya tegas. Tidak tinggi, tetapi cukup untuk membuat Arkana memahami bahwa kali ini perempuan itu tidak akan membiarkannya mengalihkan pembicaraan begitu saja.Arkana terdiam. Ia memperhatikan wajah Anindya, berharap menemukan sedikit keraguan yang bisa memberinya kesempatan untuk menunda percakapan tersebut. Namun, tidak ada.Anindya tetap menatapnya dengan sorot mata yang sama. Teguh. Serius. Dan jelas tidak berniat mengalah.Arkana akhirnya mengembuskan napas panjang. "Baiklah."Arkana menggeser sedikit kepala
Setelah berpamitan sekali lagi, akhirnya Tuan Adipati, Nyonya Adipati, dan Tuan Ranaditya meninggalkan kamar rawat. Dari balik pintu yang perlahan tertutup, suara Tuan Adipati masih terdengar."Besok kita datang lagi lebih pagi."Ranaditya menjawab singkat, "Lihat nanti.""Kamu ini selalu begitu."Suara mereka semakin menjauh, disusul tawa kecil Nyonya Adipati yang terdengar samar. Anindya memperhatikan pintu itu selama beberapa detik.Ketiga orang tersebut pulang dengan wajah ceria. Setidaknya, kini mereka tidak lagi harus menunggu dengan kecemasan yang sama seperti sepuluh hari terakhir.Arkana sudah sadar. Ia sudah bisa berbicara. Ia bahkan sudah mampu tersenyum kepada mereka. Namun, bagi Anindya, ada sesuatu yang masih belum selesai. Sejak Arkana membuka mata, ia hampir tidak mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengannya secara pribadi.Setiap kali ia ingin menanyakan sesuatu, selalu ada orang lain yang datang. Ketika ia hendak memastikan bagaimana perasaan Arkana, dokter masuk
Kata-kata Nyonya Adipati membuat Tuan Adipati terdiam. Kalau ada yang bisa membuat Tuan Adipati terdiam, memang orang itu hanya istrinya. Nyonya Adipati menatap suaminya dengan ekspresi yang tidak memberi banyak ruang untuk perdebatan. "Dokter juga sudah mengatakan bahwa dia perlu beristirahat. Kalau kita terus berada di sini dan mengajaknya berbicara, kapan dia bisa tidur?""Aku tidak mengajaknya berbicara terus-menerus.""Benarkah?"Tuan Adipati terdiam lagi. Di sisi lain, Ranaditya mengalihkan wajahnya, menyembunyikan senyum tipis yang nyaris muncul di sudut bibirnya. Setidaknya, ada seseorang yang bisa memahami maksudnya tanpa perlu diberi kode berkali-kali."Tapi aku masih ingin menemani Arkana," ujar Tuan Adipati, kali ini dengan nada lebih pelan.Nyonya Adipati menghela napas. "Kamu bisa datang lagi besok. Arkana tidak akan pergi ke mana-mana.""Kamu bicara seolah-olah aku menghalangi dia istirahat.""Kalau begitu, ayo pulang." Perempuan itu bangkit, kemudian merapikan tasnya.
Anindya sendiri berdiri tidak jauh dari ranjang. Ia memperhatikan Arkana dengan saksama, mencoba menangkap setiap perubahan ekspresi laki-laki itu.Sesekali, Arkana menjawab pertanyaan mereka. Namun, ada saat-saat ketika ia justru diam terlalu lama, menatap satu titik tanpa mengatakan apa pun.Ketika Tuan Adipati memanggil namanya, Arkana baru kembali menoleh beberapa detik kemudian. Ranaditya pun menyadarinya."Jangan terlalu banyak bertanya dulu," katanya kepada Tuan Adipati. "Dia baru sadar. Beri dia waktu."Tuan Adipati akhirnya mengangguk. "Benar juga."Nyonya Adipati menarik kursi dan duduk di sisi lain ranjang. "Kamu tidak perlu memikirkan apa pun sekarang, Arkana. Istirahat saja. Kami semua ada di sini."Arkana menatapnya sebentar. Kemudian, ia mengangguk pelan. Anindya memperhatikan pemandangan itu dengan perasaan campur aduk.Anindya merasa bahagia melihat Arkana dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Ia juga bersyukur kedua kakek dan Nyonya Adipati bisa melihat sendiri
Setelah dokter dan perawat selesai melakukan pemeriksaan, Anindya menghampiri ranjang."Arkana, bagaimana perasaanmu?"Arkana menoleh perlahan. "Capek." Suaranya terdengar serak.Anindya langsung mengangguk. "Kalau begitu, istirahat dulu. Jangan pikirkan apa-apa sekarang."Ia ingin bertanya tentang Arsen. Pertanyaan itu masih memenuhi pikirannya sejak tadi.Namun, melihat Arkana yang kembali memejamkan mata, Anindya tidak tega memaksanya berbicara. Ia menarik kursi ke dekat ranjang, lalu duduk kembali."Kalau kamu membutuhkan sesuatu, panggil aku, ya."Arkana membuka mata sebentar dan menatapnya. Setelah itu, ia kembali diam.Anindya menghela napas perlahan. Arkana sudah sadar. Itu seharusnya menjadi kabar paling membahagiakan baginya. Namun, kebingungan yang terlihat di wajah laki-laki itu membuat Anindya belum bisa benar-benar tenang.Dan pertanyaan tentang Arsen masih belum mendapatkan jawaban.***Kabar bahwa Arkana telah sadar menyebar dengan cepat kepada keluarga. Orang pertama
Anindya masih belum mampu mengalihkan pandangannya dari Arkana. Laki-laki itu baru saja terbangun setelah sepuluh hari tidak sadarkan diri. Seharusnya, saat ini ia bisa menangis lega, memeluk tangan Arkana, dan mengucapkan semua hal yang selama ini hanya bisa disampaikannya kepada laki-laki yang terbaring diam.Namun, pertanyaan Arkana tentang Arsen telah mengubah segalanya.'Di mana Arsen? Bagaimana keadaannya?'Nama itu terus terngiang di telinga Anindya. Ia ingin segera bertanya mengapa Arkana menyebut nama anak mereka. Ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya diingat laki-laki itu. Namun, ketika melihat wajah Arkana yang masih pucat dan tatapannya yang tampak belum sepenuhnya fokus, Anindya mengurungkan niatnya.Arkana baru saja sadar. Ia belum tentu benar-benar memahami keadaan di sekelilingnya.Mungkin ada sesuatu yang belum beres dengan kondisinya. Mungkin ia masih mengalami kebingungan setelah kehilangan kesadaran begitu lama.Anindya tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri."
Sorot lampu memenuhi ballroom Grand Meridia Hotel, memantul dari kristal di langit-langit dan meja-meja kaca yang tersusun mewah. Tepuk tangan bergema ketika pembawa acara mengangkat kartu pemenang dan tersenyum lebar ke arah kamera. “Pemenang Aktris Terbaik tahun ini adalah... Anindya Wijaya!” R
Perubahan sikap Anindya Wijaya menjadi bahan pembicaraan paling panas di Nusantara Academy selama seminggu terakhir. Dulu, semua orang tahu siapa yang selalu mengelilingi Rafael Mahendra.Anindya, wanita kaya yang keras kepala itu akan datang membawa kopi saat Rafael begadang mengerjakan tugas, men
Sudah tiga hari sejak Arkana pindah ke Nusantara Academy. Tiga hari pula nama Anindya Wijaya dan Arkana Pratama menjadi topik utama seluruh sekolah. Ada yang bilang Anindya sedang mencari perhatian. Ada yang bilang Arkana hanya terlalu sopan untuk menolak. Ada juga yang yakin hubungan mereka diam-d
Suara ramai memenuhi telinga Anindya sebelum ia sempat membuka mata sepenuhnya.Teriakan siswa, langkah kaki berlarian, dan tawa remaja yang bercampur dengan suara bel masuk pagi. Angin menerpa wajahnya, membuat Anindya bertanya-tanya berada di manakah dia. Anindya membuka matanya, ia mengerjap pe







