"Arkana, kamu tahu persis bukan itu maksudku."Rafael menoleh ke Anindya. Untuk pertama kalinya malam itu, ada rasa bersalah jelas di matanya.“Anin... aku—”Namun kata-kata itu berhenti di tenggorokan. Harga dirinya menahan. Ia menelan kalimat maaf yang seharusnya keluar.“Aku tidak tahu akan separah itu,” katanya akhirnya. Bukan maaf. Hanya pembelaan terlambat.Anindya tersenyum tipis, tapi dingin. “Ya. Kamu memang sering tidak tahu.”Rafael terpaku. Kalimat itu jauh lebih menyakitkan dari bentakan. Citra mencoba mendekat lagi.“Anindya, aku sungguh minta maaf...”“Aku capek,” potong Anindya tenang. “Bisa kalian pergi dari hadapanku?”Rafael langsung berkata, “Anin—”“Kalian dengar.” Suara itu datang dari Arkana.Ia duduk di kursi rodanya dengan wajah tanpa ekspresi.“Tolong pergi," kata Anindya. Nada bicaranya sopan. Tetapi jelas bukan permintaan.Rafael menatapnya beberapa detik, rahang mengeras. Namun akhirnya ia berbalik. Citra ikut keluar dengan mata merah. Pintu tertutup. Ruan
Last Updated : 2026-05-03 Read more