Citra Anggraini cukup cerdas untuk tahu kapan harus menyerang. Dan lebih cerdas lagi untuk tahu kapan harus diam. Menuduh langsung hanya akan membuat Rafael Mahendra defensif. Mendesak terlalu keras hanya akan membuatnya menjauh. Jadi Citra memilih cara yang lebih halus. Citra tidak pernah bertanya banyak, tidak menangis, tidak juga marah. Ia hanya... diam dengan cara yang membuat Rafael merasa bersalah. Dan itu jauh lebih efektif. Pagi itu, Rafael datang ke kelas seperti biasa. Citra sudah duduk di kursinya, membaca buku. Biasanya ia akan menyapa manis, menanyakan sarapan, atau memberikan minuman. Hari ini tidak. Ia hanya mengangkat mata sebentar. “Pagi.” Nada datar. Rafael berhenti di samping meja. “Pagi.” Rafael duduk dan menoleh. “Kamu kenapa?” “Kenapa apa?” “Kamu aneh.” “Aku biasa saja.” Citra kembali membaca buku. Rafael mengerutkan kening. Citra memang tidak marah. Justru itu yang mengganggu. Sepuluh menit kemudian, kelas mulai ramai. Di belakang, Anindya datang terla
Last Updated : 2026-05-11 Read more