Setelah Arkana di perpustakaan sendiri, pandangannya kosong. Kepalanya penuh dengan kilas balik kejadian barusan. Arkana tahu, ia bisa mengejar. Ia bisa memanggil. Ia bisa menjelaskan. Namun tubuhnya justru kaku. Bukan karena kakinya. Tapi karena ketakutan.Bagaimana jika Anindya memang hanya keras kepala sesaat? Bagaimana jika suatu hari ia menyesal? Bagaimana jika perasaannya sekarang tulus... tapi tidak cukup kuat untuk masa depan?Arkana menutup mata. Ia tidak takut ditolak. Ia takut dipercaya lalu mengecewakan. Ia takut, ternyata dirinya tidak bisa menjadi yang diharapkan oleh Anindya. Dan kesadaran ini, membuat Arkana terkejut lebih dari yang seharusnya.Arkana menggeleng. Tidak, seharusnya bukan ini yang ia rasakan. Arkana sadar, perasaan yang mulai muncul ini harus dibunuh dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Malam itu, rumah keluarga Wijaya terasa lebih sunyi. Anindya pulang lebih cepat dan langsung masuk kamar. Neneknya yang sedang membaca koran menatap pintu tertutup. La
Read more