Rafael terlihat cukup curiga pada maksud Citra. Sesaat Citra merasa panik, namun dengan cepat, Citra segera mencari alasan yang terasa masuk akal. “Aku benar-benar merasa bersalah,” jawab Citra lirih. “Aku cuma mau minta maaf.” “Di tengah keributan?” tanya Rafael makin curiga. “Aku panik... jadi salah waktu bicara.” Citra menunduk. Air mata mulai menggenang. Biasanya, Rafael akan langsung luluh. Hari ini ia hanya melihat. Mengamati. Dan menyadari satu hal: Citra selalu menangis di momen yang tepat. Atau terlalu tepat. “Aku bukan sedang menghakimi kamu,” kata Rafael tenang. "Lalu?” “Aku sedang mencoba memahami kamu.” Citra mengangkat kepala perlahan. “Apa ada yang salah denganku?” Pertanyaan itu terdengar rapuh. Namun Rafael justru bertanya balik, “Ada?” Citra tercekat. Ia tak menyangka akan dibalas seperti itu. “Rafael... kenapa kamu bicara begini?” “Karena mungkin selama ini aku tidak cukup melihat.” Rafael menyandarkan tubuh. “Aku selalu menganggap kamu polos.” “Aku m
Last Updated : 2026-06-02 Read more