Keesokan paginya, Anindya berjalan di koridor sambil membaca flashcard. Saat berbelok, ia hampir menabrak kursi roda Arkana. Keduanya berhenti sangat dekat. Anindya menutup kartu. “Permisi.”Anindya hendak lewat. Namun, Arkana bicara lebih dulu. “Kamu tidak ke perpustakaan kemarin.”“Ya.”“Kamu bilang belajar sendiri.”“Dan aku belajar.”Sunyi sesaat. “Aku menunggumu kemarin.”Kalimat itu keluar pelan. Nyaris seperti pengakuan. Anindya menatapnya. Untuk pertama kali sejak pertengkaran itu, mata Arkana tampak goyah. Anindya menahan senyum.“Bagus," kata Anindya ringan. Lalu ia melangkah pergi. Meninggalkan Arkana membeku di tempat.Dari ujung koridor, teman-temannya menyaksikan sambil heboh.“Ya Tuhan, dia ngebalikin!”“Anindya ganas sekali.”“Cowok dingin kena karma.”Sementara Anindya berjalan tenang ke kelas, jantungnya berdebar kencang. Ternyata benar. Mendorongnya pergi... tidak akan semudah itu.***Pagi itu, langit cerah di atas Nusantara Academy. Koridor ramai oleh siswa yang
Baca selengkapnya