Kata-kata Arkana menyentuh ego Rafael. Seketika, ruangan terasa menegang. Arkana mendorong kursi rodanya maju sedikit. Tatapannya tajam, dingin, tenang.“Dengar baik-baik. Aku tahu keluargaku. Aku tahu konsekuensinya. Aku tahu hubungan bukan dongeng.” Setiap kata jatuh jelas. “Aku bahkan memikirkan semua itu jauh sebelum kamu datang.”Rafael terdiam.“Masalah restu keluarga, status, masa depan— Itu urusanku dengan dia. Bukan urusanmu," lanjut Arkana, tenang. Rafael tertawa pendek. “Kamu yakin bisa lindungi dia?”Arkana tak berkedip. “Lebih baik daripada kamu.”Kalimat itu sederhana. Namun telak. Wajah Rafael mengeras.“Aku cuma kasihan kalau dia berharap terlalu banyak,” kata Rafael akhirnya. Arkana menatap tanpa emosi. “Aku justru kasihan padamu.”Rafael mengernyit. “Kenapa?”“Karena bahkan sekarang pun...” Arkana berhenti sebentar. Lalu menyelesaikan dengan tenang. “...kamu masih datang membicarakan perempuan yang katanya sudah tidak penting.”Sunyi. Tak ada jawaban cepat kali i
Read More