Hening kembali merayap di aula diplomatik, namun kali ini ketegangannya terasa berbeda. Syarat yang diajukan Ashyel terdengar seperti lelucon yang menghina bagi para pendeta Elarion, tetapi bagi Lucia Aurem, itu adalah harga terkecil yang harus dibayar demi keselamatan negerinya."Baik," jawab Lucia tanpa ragu. Suaranya mantap, mengabaikan tatapan ngeri dari para pengawalnya. "Saya akan memastikan para Kardinal duduk manis mendengarkan penjelasan Anda. Tanpa dupa, tanpa doa interupsi.""Bagus. Aku suka orang yang pragmatis," ucap Ashyel puas sambil memasukkan Cincin Suaka Agung ke dalam saku gaunnya."Tunggu dulu," potong Aslan. Langkah kakinya yang berat terdengar mendekat, menghentikan atmosfer santai yang sempat dibangun Ashyel. Duke Krossvane itu menatap Lucia dengan mata sedingin es. "Saintess Lucia, Anda memberikan jaminan keselamatan untuk Duchess-ku. Tapi bagaimana dengan jaminan bahwa ini bukan jebakan untuk memancing Krossvane kelu
Read more