Marlo berdiri di tepi batu, merapikan jubah abu-abunya seolah pertarungan hidup-mati tadi hanyalah latihan ringan. Ia menatap ke arah utara, ke arah kabut yang mulai menebal. "Dia selamat," gumam Marlo, suaranya kembali santai. "Tapi peringatanku tetap berlaku, Duke. Kaisar sudah mengirim The Silent Hand untuk menjemput pangerannya. Kalian harus segera pergi dari sini sebelum mereka mengepung lembah." Aslan menatap Marlo dengan tatapan yang sangat dingin. "Setelah ini, kau akan menjelaskan siapa dirimu sebenarnya, atau aku akan memastikan kau tidak akan pernah melihat matahari lagi, siapa pun namamu." Marlo hanya terkekeh, ia menyentuh topinya sebagai tanda hormat, lalu melompat ke dahan pohon ek dan menghilang ke dalam kabut secepat ia muncul. Ashyel menghela napas lega, meskipun tubuhnya terasa lemas. Ia bersandar pada dada bidang Aslan, merasakan detak jantung suaminya yang masih berdegup kencang karena amarah. Di tengah gemuruh air terjun perak, Ashyel menyadari satu hal
Last Updated : 2026-05-02 Read more