Bisik-bisik ketakutan memenuhi aula. Ini bukan lagi sekadar pesta; ini adalah eksekusi terselubung. Beatrix di kejauhan tampak menyeringai puas. Dia tahu kakaknya, Ashyel yang asli, bahkan tidak bisa membedakan garam dan gula, apalagi racun medis. Aslan menatap nampan itu dengan rahang mengeras. "Yang Mulia, ini berlebihan—" "Jangan khawatir, Aslan sayang," potong Ashyel sembari tersenyum nakal. Ia melangkah maju mendekati nampan tersebut. Labella menggunakan insting medisnya. Ia tidak melihat apel itu sebagai buah, melainkan sebagai objek observasi. Ia memperhatikan tekstur kulitnya, perubahan warna yang sangat mikroskopis di dekat tangkai, dan aroma kimia yang samar bagi hidung orang awam, namun sangat tajam bagi seorang ahli bedah. Ashyel mengambil apel di bagian tengah. Ia memutarnya di tangannya, lalu tiba-tiba ia mengeluarkan pisau kecil dari balik korset gaunnya—pisau bedah yang selalu ia bawa. Sret! Bukannya memakan atau memberikan pada Aslan, Ashyel justru membela
Zuletzt aktualisiert : 2026-04-30 Mehr lesen