Hening seketika terasa di dalam ruangan besar itu. Genggaman tangan Kaisar pada jemari Lian Xue mendadak membeku, dingin dan tanpa ketegangan seraya pandangannya terkunci lurus pada paras sang Putri.Lian Xue menahan napas. Ia siap menerima ledakan amarah, guncangan ketidakpercayaan, atau bahkan sanggahan keras dari Ayahandanya. Namun, reaksi yang terjadi justru jauh dari dugaannya.Perlahan, genggaman Kaisar terlepas. Sang Penguasa menyandarkan punggungnya pada kursi kebesaran, menghembuskan napas panjang yang terdengar bukan sebagai bentuk kemurkaan, melainkan sebuah keluhan berat yang teramat lelah."Ayah ... sudah menduganya," bisik Kaisar lirih.Lian Xue membelalakkan matanya, terperanjat hebat. "Ayahanda ... sudah tahu?"Kaisar memejamkan mata sejenak, mengurut pangkal hidungnya dengan jemari yang gemetar. "Ayah bukan pria bodoh, Xue'er. Malam ketika Wu Jian mengaku dirinya sedang mengandung, Ayah tahu betul bahwa Ayah tidak pernah memerintahkan Kasim untuk membiarkan beni
Baca selengkapnya