Sudah tiga hari Lian Xue mengasingkan diri di Bukit Minglian. Namun, bukannya ketenangan yang didapat, bayangan wajah tegas dan mata elang Shen Yang justru kian gencar bergentayang di benaknya. Siang itu, puncak kekesalannya membuncah. Lian Xue yang kehilangan kendali emosi membanting cangkir porselen hingga hancur berkeping-keping. "Kenapa wajah pria kaku itu terus muncul di kepalaku?!" desisnya murka pada kesendiriannya. Namun, saat berniat membereskan pecahan porselen itu, ujung jarinya tergores tajam hingga menyebarkan pendar darah segar di atas lantai. Melihat junjungannya yang kian tenggelam dalam kesedihan dan keputusasaan, A'Ning yang tak tega. Ia berinisiatif mengajak Lian Xue melangkah keluar. "Putri, mari kita mencari bunga liar di lereng bukit. Udara luar mungkin bisa sedikit menyegarkan pikiranmu," bujuk A'Ning lembut. Lian Xue akhirnya mengangguk pasrah. Sayangnya, takdir seolah tak berpihak padanya. Baru saja mereka sampai di jalan setapak lereng bukit, lang
อ่านเพิ่มเติม