“M-maafkan saya, Tuan.” Elowen kembali menunduk semakin dalam. Dia tidak berani menatap Aisar, bahkan ketika dirinya benar-benar ingin. Dia merasa sudah banyak mengecewakan pria itu. “Terima kasih,” ujar Aisar, membuat Elowen refleks mengangkat wajahnya. Bahkan mulutnya sedikit terbuka karena tak percaya Aisar mengatakan itu. “Tuan…” Aisar tersenyum tipis. Dia sedikit membusungkan dada, berharap rasa sesaknya bisa tersamarkan. Tangannya menyentuh puncak kepala Elowen, hingga membuat gadis itu sedikit menunduk karena sentuhannya. “Kau selalu saja menyelamatkanku, Elowen,” katanya. “Kalau saja, kau tidak menemani prajurit itu ke bukit utara, mungkin aku sudah mati karena racun bajingan itu.” Aisar terekekh hambar. Mengingat bukit utara, dia juga ikut mengingat bandit yang sudah berani menyentuh gadisnya. “Elowen,” ujar Aisar dengan suara yang sedikit berat. Dia menatap Elowen lebih dalam. “Ya, Tuan?” sahut Elowen pelan. Aisar tidak langsung menjawab. Pupilnya menyusut pe
最後更新 : 2026-06-04 閱讀更多