“Y-ya, Tuan…” Elowen buru-buru mengikuti Silas. Langkahnya yang semula ragu kini semakin cepat, meski pergelangan kakinya masih terasa nyeri setiap kali menyentuh lantai marmer yang dingin. Koridor istana mulai sepi. Para pelayan yang berpapasan segera menundukkan kepala ketika melihat Silas lewat. Beberapa di antaranya sempat melirik Elowen diam-diam, sebelum kembali berpura-pura sibuk. Bisik-bisik itu masih ada, masih terdengar dan mengejarnya. Elowen menunduk semakin dalam. “Apa kau akan terus berjalan sambil menatap lantai?” tanya Silas tiba-tiba. “Apa kepalamu tidak pusing?” Elowen tersentak. Dia buru-buru mengangkat wajahnya, lalu menggeleng. “M-maaf, Tuan. Maafkan saya.” Silas menarik napas lelah, lalu menggeleng. Dia tidak menyangka Aisar akan sabar menghadapi gadis lugu ini. “Aku tidak meminta maafmu,” ujar Silas yang sudah kembali mempercepat langkahnya. Elowen kembali terdiam. Dia menggaruk tengkuknya, lalu mengulas senyum bingung. Tak lama, mereka tiba di
最後更新 : 2026-06-09 閱讀更多