공유

Bab 5

작가: Shirley
Rasa nyeri menjalar tajam saat lututku hantam lantai marmer yang dingin. Aku berusaha berdiri, namun tangan Martin tekan bahuku seperti besi, paksa aku tetap berlutut.

Dia rendahkan suaranya.

“Kenapa kamu nggak mau bicara? Minta maaf saja ke Kirana. Sekali saja.”

Aku gertakkan gigiku.

“Aku akan katakan ini untuk terakhir kalinya,” ucapku pelan, suaraku tegang.

“Aku nggak dorong dia. Ada CCTV tersembunyi di lorong kondominium. Periksa sendiri rekaman CCTV-nya.”

Jika Martin mau lihat rekaman itu, sandiwara Kirana akan terbongkar dengan sendirinya. Namun dia bahkan nggak mau pertimbangkan hal itu.

Martin sama sekali nggak percaya ke aku.

“Hana, kamu benar-benar buat aku kecewa,” katanya dingin.

“Kamu tahu nggak apa yang telah kau hancurkan? Nggak hanya seorang bayi, tapi kesempatan bagi Kirana untuk jadi seorang ibu.”

“Dia sudah cukup menderita. Yang dia mau cuma permintaan maaf dan kamu masih tolak itu?”

“Kamu telah rampas kesempatan itu dari Kirana. Sudah seharusnya kamu tebus itu dengan yayasan milikmu. Anggap saja ini penebusan atas penjualan saham ke pamanku tanpa sepengetahuanku.”

Sudah seharusnya?

Calon ketua mafia, pria yang selalu utamakan kekuasaan di atas segalanya, justru pilih Kirana daripada tiga puluh persen saham yang bisa hancurkan segalanya.

Aku tertawa pahit dan getir, sementara air mata mulai menggenang. Akhirnya, tiga kata itu keluar dari bibirku.

“Aku minta maaf.”

Baru setelah itu Martin lepaskan cengkeramannya dan serahkan sebuah dokumen perjanjian pengalihan aset yang sudah disiapkan.

Betapa menggelikan. Seolah tanda tangan di atas kertas mampu cabut kekayaan sebesar itu dari Keluarga Ginanjar. Namun demi keluar dari tempat itu secepat mungkin, aku tanda tangani itu.

Sekilas, emosi rumit melintas di matanya. Dia ulurkan tangannya, bantu aku berdiri, lalu dengan lembut selipkan helai rambut di balik telingaku seperti yang dulu selalu dia lakukan.

“Gadis baik. Sekarang, untuk cegah masalah lain, kamu harus bersabar sebentar.”

“Dan ingat, nggak boleh ada sepatah kata pun tentang hal ini yang tersebar. Terutama soal keguguran Kirana.”

Baru ketika dua anak buahnya kurung aku di sebuah gudang persediaan yang terbengkalai, aku benar-benar ngerti maksud dari “bersabar” itu. Dia nggak pernah berniat biarkan aku mainkan peranku dalam pernikahan.

Martin hanya ingin kurung aku, lalu umumkan ke dunia kalau aku kabur dari altar dan kemudian mainkan peran sebagai pengantin pria yang ditinggalkan saat dia nikahi Kirana. Aku pukul-pukul pintunya, teriak hingga suaraku serak. Akhirnya, seorang pelayan tua yang sedang bersihkan lorong dengar itu.

Saat pintu terbuka, aku langsung kenali dia, seseorang yang telah mengabdi selama tiga puluh tahun di Keluarga Kusuma, orang yang dulu pernah ditolong Esther. Dia juga kenali aku. Tanpa sepatah kata, dia kasih aku jaket dan berbisik, “Nona Hana, pintu belakang.”

Aku melirik jam. Pesawatku akan berangkat dalam tiga puluh menit. Aku langsung menuju bandara. Saat hendak memasuki jalur boarding VIP, telepon dari Esther masuk.

“Hana, kamu di mana? Martin baru saja merilis pernyataan kalau kamu kabur dari pernikahan. Apa dia benar-benar akan nikahi putri seorang pelayan dan permalukan keluarga ini?”

Aku belum sempat jawab ketika suara pengumuman boarding pesawat terdengar samar dari HP.

“Hana, kamu di bandara? Di saat seperti ini? Kamu pikir kamu mau pergi ke mana, tinggalkan kerja sama kita?”

“Bu, pernikahan hari ini adalah milik dia dan Kirana. Nggak ada hubungannya dengan aku.”

Esther begitu marah sampai dia nggak putuskan sambungan. Dari seberang, aku bisa dengar amarahnya meledak, suara yang menggelegar saat dia tuntut penjelasan dari Martin, yang tampaknya ada di sampingnya. Dia menanyakan apa Martin sudah kehilangan akal sehatnya.

Suara Martin terdengar panik, berusaha bela dirinya.

“Ibu, hentikan! Kirana lagi hamil. Aku harus lakukan ini untuk lindungi garis keturunan keluarga. Ibu akan punya cucu.”

Kupikir Esther yang sangat menjunjung tinggi garis keturunan, akan melunak dengar itu. Namun sambungan telepon mendadak sunyi. Lalu sebuah bentakan tajam penuh amarah menggema, “Omong kosong! Kirana kena tembak dalam baku tembak geng saat usia delapan tahun. Rahimnya sudah diangkat. Gimana mungkin dia bisa hamil?!”
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 11

    Jam enam pagi, alarm di seluruh kediaman meraung keras. Toni bergegas masuk ke ruang kerja.“Nona Hana, Martin Kusuma ada di luar. Dia kepung kediaman ini dengan lebih dari dua puluh orang.”Aku bangkit dari sofa dan lihat deretan mobil hitam terparkir di depan gerbang. Joni berdiri di sampingku, nada suaranya tetap tenang.“Sepertinya dia sudah tahu tentang kejadian semalam.”“Biarkan dia masuk,” kataku sambil rapikan pakaianku.“Sudah waktunya akhiri semuanya.”Toni mengernyit.“Nona Hana, itu terlalu berbahaya.”“Nggak apa-apa,” ujar Joni sambil mengangguk ringan.“Biarkan dia masuk. Tapi cuma Martin.”Seperti yang diduga, nggak lama kemudian Martin terobos masuk ke ruang kerja. Matanya merah, jasnya kusut. Dia tampak seperti nggak tidur berhari-hari.“Hana, ayo pulang dengan aku,” kata Martin dengan suaranya yang serak.“Pelabuhan Purwoyita sedang kacau. Hanya aku yang bisa lindungi kamu.”Joni melangkah maju, berdiri di depanku, halangi jalan Martin.“Martin, keputusan itu sepenuh

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 10

    Aku tutup telepon dari Martin dan segera hubungi ibuku.“Bu, gimana situasi di Pelabuhan Purwoyita?”Suara ibuku terdengar lelah, seolah baru saja lewati badai panjang.“Hana, kamu sudah usik sarang lebah. Keluarga Kusuma lagi terjerat perang saudara. Paman Martin, Andi Kusuma, gunakan tiga puluh persen saham yang kamu jual untuk lancarkan langkahnya.”Genggaman tanganku pada HP jadi mengeras.“Sebenarnya apa yang sedang terjadi?”“Andi bilang Martin telah kehilangan haknya sebagai pewaris. Dia sedang memposisikan dirinya sebagai masa depan keluarga.”Ibuku berhenti sejenak sebelum lanjutkan, “Kepala mafia tua sedang sakit parah, dan Esther nggak mampu kendalikan situasi sendirian.”Dia pun tarik napas berat.“Keluarga-keluarga lain hanya nonton, tunggu arah angin berubah.”Aku hampir bisa cium bau darah di udara.“Apa lagi?” desakku.“Andi lihat kamu sebagai kunci untuk jatuhkan Martin dan Ketua Mafia tua.” Nada suara ibuku berubah serius.“Hana, keluar dari Kota Anca! Sekarang! Kemba

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 9

    “Tutup tirainya,” kataku ke asistenkku.“Dan suruh seseorang putus listrik layar konyol di seberang itu.”Di luar jendela kantorku, layar LED raksasa di gedung seberang, yang baru saja Martin beli, tayangkan video permintaan maafnya tanpa henti, 24 jam penuh. Wajahnya tampak kusut, matanya basah oleh air mata. Penolakanku sama sekali nggak sadarkan dia.Martin pilih satu-satunya cara yang dia tahu untuk rebut kembali hati seorang wanita, lemparkan uang ke dalam masalah. Dia bahkan suap semua manager di semua restoran favoritku untuk kabarin dia kalau aku datang, hanya untuk ciptakan momen “kebetulan” ketemu.Asistenku serahkan sebuah tablet.“Nyonya, Pak Martin baru saja akuisisi perusahaan pesaing kita dalam proyek lingkungan itu, dengan harga jauh di atas pasar. Perwakilannya bilang dia ingin serahkan seluruh proyek itu ke kamu, tanpa biaya.”Aku bahkan nggak lirik layar itu.“Tolak,” kataku dingin.“Dan segera keluarkan pernyataan publik. Perusahaan kita tolak segala bentuk investas

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 8

    Itu adalah rekaman dari CCTV tersembunyi yang aku tanam di lorong kondominium. Dalam video itu terlihat jelas aku berdiri diam nggak gerak, sementara Kirana teriak histeris dan jatuhkan dirinya sendiri dari tangga spiral, penuh drama murahan.Ucapan-ucapan kejam yang dia lontarkan ke aku saat Martin pergi, kini bergema kembali, kata demi kata, di ruang rumah sakit yang sunyi. Martin yang sudah ada di ambang batas kesabarannya, dorong Kirana menjauh ketika dia coba raih Martin kembali.“Keluar!”Kirana menatap tatapan dingin itu dan membeku, isakan tertahan di tenggorokannya.“Martin, aku lakukan semua ini karena aku sangat cinta kamu.”“Waktu kita masih kecil, kamu janji akan nikah dengan aku waktu kita dewasa. Tapi kamu ingkari janji itu. Kamu malah jatuh cinta ke wanita lain .…”“Aku nggak pernah ingin rusak segalanya untuk kamu. Tapi kamu yang selalu kasih aku perlakuan istimewa. Setiap kali aku telepon, kamu tinggalkan semuanya. Kamu manjakan aku, turuti semua keinginanku. Kalau ka

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 7

    Wajah Kirana memucat, pucat pasi, saat dia mati-matian coba sangkal itu.“Itu bohong! Aku nggak seperti itu! Aku hamil anak Martin!”“Itu Hana! Dia yang kejam! Dia dorong aku dari tangga dan sebabkan keguguran ini. Dokter bilang aku ….”“Terus kamu akan bilang rahimmu rusak parah sampai harus diangkat hari ini juga?”Esther potong ucapannya dengan tajam. Tubuh Kirana langsung goyah. Dia gigit bibirnya, matanya berkaca-kaca saat menatap Martin.“Martin, ibumu selalu rendahkan aku, tapi gimana mungkin aku tahu semua sejarah keluarga yang dia ungkit itu?”Kirana bertaruh pada ketidaktahuan pewaris muda itu terhadap masa lalu keluarganya sendiri. Namun Esther nggak semudah itu ditipu. Dia melangkah maju dan cengkeram lengan Kirana.“Entah organ itu diangkat sepuluh tahun lalu atau hari ini, sekali ke rumah sakit semua akan jelas.”Tentu saja, Kirana nggak berani terima tantangan itu.Dia pegangi perutnya dengan panik, kepalanya terkulai ke samping, lalu jatuhkan diri seolah pingsan. Sandiw

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 6

    Aku berdiri terpaku, HP masih tergenggam di tangan, benar-benar kehilangan kata-kata. Semua ini rasanya konyol, sangat menggelikan. Namun kebenaran itu sudah nggak penting lagi bagiku.Esther rupanya belum tutup sambungan telepon, karena suaranya kembali terdengar tajam dari seberang.“Hana, kamu nggak boleh naik pesawat itu. Aku sedang selesaikan ini sekarang. Aku nggak akan biarkan nama Kusuma diinjak-injak. Gadis itu benar-benar cerminan ibunya yang haus status.”Panggilan terakhir boarding menggema, minta para penumpang matikan perangkat elektronik. Tanpa ragu, aku putuskan sambungan. Saat layar HP menggelap, samar-samar aku masih dengar suara Martin yang bergetar.“Ibu … yang kamu bilang itu beneran?”Namun kebenaran itu sudah nggak tarik perhatianku lagi. Apa Kirana beneran hamil, anak siapa yang dia kandung, semua itu sudah nggak berarti lagi.Aku pejamkan mata, pikiranku justru mulai dipenuhi rencana-rencana untuk masa depan. Selama ini, aku korbankan ambisiku demi kerja sama k

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status