공유

Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya
Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya
작가: Shirley

Bab 1

작가: Shirley
Sehari sebelum pernikahan, tunanganku, Martin Kusuma, dengan enteng batalkan makan malam gladi resik kita. Dia hanya kirim pesan singkat bilang kalau dia akan nikahi cinta masa kecilnya, Kirana Ajeng. Perempuan itu lagi hamil dan bayi itu butuh nama keluarga Kusuma.

Nggak masalah buat aku. Aku langsung setuju. Sejujurnya, sudah lama aku mau keluar dari pernikahan ini. Beberapa saat kemudian, Kirana unggah pembaruan di jaringan sosial privat keluarga mereka.

Foto itu perlihatkan dua tangan yang saling genggam, dihiasi cincin warisan Keluarga Kusuma. Di latar belakang, tampak samar sebuah hasil sonogram, tujuh minggu. Keterangan fotonya nyaris meneteskan rasa kemenangan.

[Dia bilang mau kasih aku dan bayi kita sebuah keluarga yang utuh.]

Di kolom komentar, lingkaran dalam Keluarga Kusuma banjiri mereka dengan ucapan selamat. Mereka ucapkan selamat kepada sang Bos muda karena akhirnya ikuti kata hatinya, bahkan janjikan hadiah-hadiah mewah untuk upacara besok. Nggak seorang pun pikirkan aku, tunangannya sendiri.

Seolah-olah pesta megah yang selama ini jadi buah bibir itu memang sejak awal ditujukan untuk mereka. Aku hanyalah orang luar.

Aku terkekeh dingin, lalu suruh salah satu anak buahku kirimkan sebotol sampanye sebagai hadiah ucapan selamat. Aku sertakan juga sebuah catatan tulisan tangan:

[Semoga kebahagiaan menyertai kalian seumur hidup.]

Setengah jam kemudian, unggahan itu hilang. Nggak lama, Martin telepon. Suaranya tegang, penuh rasa nggak sabar.

“Hana, apa maksudmu kirim hadiah seperti itu? Kamu mau picu perang antara keluarga kita?”

Sesaat, aku kehabisan kata-kata.

“Aku nggak buat masalah kok. Aku cuma kasih ucapan selamat dengan tulus.”

Namun Martin nggak mau dengar. Dia yakin aku sengaja buat keributan.

“Hentikan sandiwaramu, Hana. Kamu kira aku nggak tahu kamu mau apa?”

“Semua orang di kota ini tahu besok seharusnya hari pernikahan kita. Kirim hadiah seperti itu, apa kamu mau permalukan Kirana di depan umum?”

“Hadiahmu buat Kirana panik. Dia hancur, dan aku nggak bisa buat dia berhenti nangis. Kamu harus minta maaf ke dia. Sekarang!”

Di seberang telepon, samar-samar aku dengar isak tangis seorang wanita.

“Martin, sudahlah. Aku yang nggak seharusnya paksa kamu. Aku akan pergi ke klinik dan akhiri semuanya. Meski aku nggak bisa lagi jadi ibu, itu lebih baik daripada kamu dituduh ingkari janji.”

Nada suara Martin langsung melunak, berubah penuh perlindungan saat tenangkan Kirana.

“Kirana, jangan bicara yang aneh-aneh. Besok aku akan bawa kamu ke gereja. Kamu satu-satunya Nyonya Kusuma.”

“Nggak perlu khawatir soal gosip. Siapa pun yang berani sentuh kamu akan bayar itu dengan darah.”

Tangis Kirana justru semakin keras.

“Lalu gimana dengan Hana? Keluarga Ginanjar nggak akan biarkan aku begitu saja. Lebih baik aku gugurkan bayi ini, biar pernikahan megahmu tetap berjalan seperti rencana .…”

Martin terdengar panik, napasnya memburu, suaranya berubah memohon.

“Sayang, aku sudah urus dia. Dia setuju tunggu tiga tahun, demi kebaikan hubungan kerja sama. Semuanya berjalan sesuai rencana baru.”

“Sekarang hapus air matamu. Terlalu emosional nggak baik buat kesehatanmu.”

“Kalau terus nangis, matamu akan bengkak waktu pakai gaun pengantin besok.”

Akhirnya, Kirana tertawa kecil, manja.

Martin pun menghela napas lega. Ketika dia kembali bicara ke aku, suaranya dipenuhi nada merendahkan.

“Hana, kamu masih dengar? Jadilah gadis baik dan minta maaf ke Kirana. Setelah itu, kita lupakan semua ini.”

Buku-buku jariku memutih saat genggam HP, dingin merambat di sepanjang nadiku. Padahal aku nggak salah apa-apa. Aku yang dikhianati, lalu mengapa aku yang harus minta maaf?

“Martin, apa yang buat kamu pikir aku akan lakukan itu?”

Dia terdiam sejenak, lalu suaranya meninggi tajam.

“Hana, jangan buat ini jadi buruk! Kirana lagi hamil. Dia nggak bisa tanggung tekanan. Kamu sengaja buat dia nangis. Apa kamu nggak punya hati?”

“Oke. Kamu nggak perlu minta maaf. Tapi kamu harus buktikan itu. Pergi jelaskan ke para tetua dari kedua pihak kalau kamu yang batalkan pernikahan ini.”

Seolah takut aku bakal bantah, Martin langsung tutup teleponnya.

Sesaat kemudian sebuah pesan darinya masuk.

[Sayang, aku mohon, jangan buat keributan. Hubunganku dengannya hanya formalitas, nggak berarti apa-apa. Aku hanya tunda pernikahan agar bisa kasih kamu kehidupan terbaik setelah aku pegang kendali penuh atas keluarga.]

Kemunafikan itu buat mataku perih.

Kehidupan terbaik? Aku telah tunggu dia selama delapan tahun di dunia yang penuh ambisi dan kekuasaan ini. Dan balasannya adalah saksikan dia kasih gelar Nyonya Kusuma ke wanita lain.

Martin, aku sudah muak dengan permainanmu. Sejak awal, kita memang nggak pernah cocok.

Layar HP-ku berkedip, pesan itu ditarik kembali. Pesan baru muncul gantikan itu.

[Kalau Kirana lihat itu, hanya akan timbulkan masalah. Lakukan saja apa yang aku katakan, aku akan tebus nanti. Saat aku jadi Ketua Mafia, aku akan tebus pengorbanan tiga tahun ini. Dengan bonus.]

Aku menatap layar itu, lalu tertawa dingin. Dua menit kemudian, pesan itu juga dia tarik kembal dengan penuh perasaan bersalah.

Pengecut! Dia sedang bohong ke Keluarga Ginanjar, atau ke dirinya sendiri? Jika ini cuma sekadar kewajiban seperti yang dia katakan, mengapa Martin begitu takut Kirana cemburu ke aku? Dan mengapa dia salahkan aku atas sandiwara murahan perempuan itu?

Martin bahkan rela pertaruhkan hubungan kerja sama dua keluarga demi dia dan seorang anak yang bahkan bukan miliknya. Atau mungkin anak itu memang miliknya?
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 11

    Jam enam pagi, alarm di seluruh kediaman meraung keras. Toni bergegas masuk ke ruang kerja.“Nona Hana, Martin Kusuma ada di luar. Dia kepung kediaman ini dengan lebih dari dua puluh orang.”Aku bangkit dari sofa dan lihat deretan mobil hitam terparkir di depan gerbang. Joni berdiri di sampingku, nada suaranya tetap tenang.“Sepertinya dia sudah tahu tentang kejadian semalam.”“Biarkan dia masuk,” kataku sambil rapikan pakaianku.“Sudah waktunya akhiri semuanya.”Toni mengernyit.“Nona Hana, itu terlalu berbahaya.”“Nggak apa-apa,” ujar Joni sambil mengangguk ringan.“Biarkan dia masuk. Tapi cuma Martin.”Seperti yang diduga, nggak lama kemudian Martin terobos masuk ke ruang kerja. Matanya merah, jasnya kusut. Dia tampak seperti nggak tidur berhari-hari.“Hana, ayo pulang dengan aku,” kata Martin dengan suaranya yang serak.“Pelabuhan Purwoyita sedang kacau. Hanya aku yang bisa lindungi kamu.”Joni melangkah maju, berdiri di depanku, halangi jalan Martin.“Martin, keputusan itu sepenuh

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 10

    Aku tutup telepon dari Martin dan segera hubungi ibuku.“Bu, gimana situasi di Pelabuhan Purwoyita?”Suara ibuku terdengar lelah, seolah baru saja lewati badai panjang.“Hana, kamu sudah usik sarang lebah. Keluarga Kusuma lagi terjerat perang saudara. Paman Martin, Andi Kusuma, gunakan tiga puluh persen saham yang kamu jual untuk lancarkan langkahnya.”Genggaman tanganku pada HP jadi mengeras.“Sebenarnya apa yang sedang terjadi?”“Andi bilang Martin telah kehilangan haknya sebagai pewaris. Dia sedang memposisikan dirinya sebagai masa depan keluarga.”Ibuku berhenti sejenak sebelum lanjutkan, “Kepala mafia tua sedang sakit parah, dan Esther nggak mampu kendalikan situasi sendirian.”Dia pun tarik napas berat.“Keluarga-keluarga lain hanya nonton, tunggu arah angin berubah.”Aku hampir bisa cium bau darah di udara.“Apa lagi?” desakku.“Andi lihat kamu sebagai kunci untuk jatuhkan Martin dan Ketua Mafia tua.” Nada suara ibuku berubah serius.“Hana, keluar dari Kota Anca! Sekarang! Kemba

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 9

    “Tutup tirainya,” kataku ke asistenkku.“Dan suruh seseorang putus listrik layar konyol di seberang itu.”Di luar jendela kantorku, layar LED raksasa di gedung seberang, yang baru saja Martin beli, tayangkan video permintaan maafnya tanpa henti, 24 jam penuh. Wajahnya tampak kusut, matanya basah oleh air mata. Penolakanku sama sekali nggak sadarkan dia.Martin pilih satu-satunya cara yang dia tahu untuk rebut kembali hati seorang wanita, lemparkan uang ke dalam masalah. Dia bahkan suap semua manager di semua restoran favoritku untuk kabarin dia kalau aku datang, hanya untuk ciptakan momen “kebetulan” ketemu.Asistenku serahkan sebuah tablet.“Nyonya, Pak Martin baru saja akuisisi perusahaan pesaing kita dalam proyek lingkungan itu, dengan harga jauh di atas pasar. Perwakilannya bilang dia ingin serahkan seluruh proyek itu ke kamu, tanpa biaya.”Aku bahkan nggak lirik layar itu.“Tolak,” kataku dingin.“Dan segera keluarkan pernyataan publik. Perusahaan kita tolak segala bentuk investas

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 8

    Itu adalah rekaman dari CCTV tersembunyi yang aku tanam di lorong kondominium. Dalam video itu terlihat jelas aku berdiri diam nggak gerak, sementara Kirana teriak histeris dan jatuhkan dirinya sendiri dari tangga spiral, penuh drama murahan.Ucapan-ucapan kejam yang dia lontarkan ke aku saat Martin pergi, kini bergema kembali, kata demi kata, di ruang rumah sakit yang sunyi. Martin yang sudah ada di ambang batas kesabarannya, dorong Kirana menjauh ketika dia coba raih Martin kembali.“Keluar!”Kirana menatap tatapan dingin itu dan membeku, isakan tertahan di tenggorokannya.“Martin, aku lakukan semua ini karena aku sangat cinta kamu.”“Waktu kita masih kecil, kamu janji akan nikah dengan aku waktu kita dewasa. Tapi kamu ingkari janji itu. Kamu malah jatuh cinta ke wanita lain .…”“Aku nggak pernah ingin rusak segalanya untuk kamu. Tapi kamu yang selalu kasih aku perlakuan istimewa. Setiap kali aku telepon, kamu tinggalkan semuanya. Kamu manjakan aku, turuti semua keinginanku. Kalau ka

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 7

    Wajah Kirana memucat, pucat pasi, saat dia mati-matian coba sangkal itu.“Itu bohong! Aku nggak seperti itu! Aku hamil anak Martin!”“Itu Hana! Dia yang kejam! Dia dorong aku dari tangga dan sebabkan keguguran ini. Dokter bilang aku ….”“Terus kamu akan bilang rahimmu rusak parah sampai harus diangkat hari ini juga?”Esther potong ucapannya dengan tajam. Tubuh Kirana langsung goyah. Dia gigit bibirnya, matanya berkaca-kaca saat menatap Martin.“Martin, ibumu selalu rendahkan aku, tapi gimana mungkin aku tahu semua sejarah keluarga yang dia ungkit itu?”Kirana bertaruh pada ketidaktahuan pewaris muda itu terhadap masa lalu keluarganya sendiri. Namun Esther nggak semudah itu ditipu. Dia melangkah maju dan cengkeram lengan Kirana.“Entah organ itu diangkat sepuluh tahun lalu atau hari ini, sekali ke rumah sakit semua akan jelas.”Tentu saja, Kirana nggak berani terima tantangan itu.Dia pegangi perutnya dengan panik, kepalanya terkulai ke samping, lalu jatuhkan diri seolah pingsan. Sandiw

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 6

    Aku berdiri terpaku, HP masih tergenggam di tangan, benar-benar kehilangan kata-kata. Semua ini rasanya konyol, sangat menggelikan. Namun kebenaran itu sudah nggak penting lagi bagiku.Esther rupanya belum tutup sambungan telepon, karena suaranya kembali terdengar tajam dari seberang.“Hana, kamu nggak boleh naik pesawat itu. Aku sedang selesaikan ini sekarang. Aku nggak akan biarkan nama Kusuma diinjak-injak. Gadis itu benar-benar cerminan ibunya yang haus status.”Panggilan terakhir boarding menggema, minta para penumpang matikan perangkat elektronik. Tanpa ragu, aku putuskan sambungan. Saat layar HP menggelap, samar-samar aku masih dengar suara Martin yang bergetar.“Ibu … yang kamu bilang itu beneran?”Namun kebenaran itu sudah nggak tarik perhatianku lagi. Apa Kirana beneran hamil, anak siapa yang dia kandung, semua itu sudah nggak berarti lagi.Aku pejamkan mata, pikiranku justru mulai dipenuhi rencana-rencana untuk masa depan. Selama ini, aku korbankan ambisiku demi kerja sama k

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status