공유

Bab 4

작가: Shirley
“Hana, aku tahu kamu benci aku, tapi kamu nggak harus dorong aku!”

“Ah, sakit! Perutku .…”

Kirana tergeletak di dasar tangga, tubuhnya meringkuk sambil pegangi perutnya, erangannya lirih namun menyayat. Telapak tangannya terkoyak serpihan kaca yang berserakan di lantai.

Martin jatuhkan kotak P3K dan lari turuni tangga, matanya liar dipenuhi kepanikan.

“Kirana! Jangan takut. Aku akan bawa kamu ke rumah sakit. Sekarang juga.”

Dia angkat tubuh Kirana ke dalam pelukannya dan bergegas menuju pintu.

Namun tepat sebelum melangkah keluar, Martin berhenti dan noleh ke aku. Tatapannya dingin, asing, seakan aku bukan siapa-siapa lagi. Suaranya berat, penuh ancaman.

“Hana, aku nggak pernah nyangka kamu bisa sekejam ini. Sampai tega nyakitin wanita hamil.”

“Kalau terjadi apa-apa ke anakku. Aku sumpah, Hana, kamu pasti akan menyesal!”

Aku hanya menatapnya bawa Kirana pergi, lalu berbisik pelan pada ruangan yang kosong, “Kita memang nggak pernah punya masa depan.”

Dengan tenang, aku ambil tisu dan mulai pungut pecahan kaca satu per satu. Darah di pergelangan kakiku sudah berhenti mengalir. Namun luka di hatiku masih menganga.

Amarah yang mengendap di dadaku dorong aku lakukan satu panggilan terenkripsi ke luar negeri. Aku hubungi para mitra bayangan lain dalam jaringan pencucian uang Keluarga Kusuma.

Tiga puluh persen saham pengendali itu adalah jaminan langsung dari Ketua mafia yang lama, sebuah perjanjian khusus untuk Keluarga Ginanjar saat pertunanganku. Begitu mereka dengar aku ingin jual itu, aku bisa rasakan napas mereka berubah cepat di seberang telepon. Aku nggak buang waktu dengan basa-basi.

Penawar tertinggi yang menang.

Dalam setengah jam, transaksi online itu selesai. Pembelinya adalah pamannya Martin sendiri, pria yang selalu dia curigai. Ambisius dan kejam, sejak lama pria itu ingin rebut posisi Martin sebagai pewaris.

Dengan saham sebesar itu di tangannya, kini dia punya cukup kekuatan untuk picu perang saudara berdarah dalam keluarga. Aku berharap Martin akan suka hadiah pernikahanku.

HP-ku kembali bergetar. Kali ini dari bawahan yang urus koordinasi pernikahan. Suaranya terdengar muram.

“Nyonya, Martin baru saja kasih perintah lagi. Dia nuntut lokasi pernikahan dipulihkan. Tapi semua dekorasi khusus sudah dihancurkan. Gimana mungkin aku bisa selesaikan itu dalam semalam?”

Aku merasa bersalah telah seret anak buahku ke dalam kekacauan ini, meski ini bukan kesalahanku. Aku minta maaf, lalu kasih dia sebuah solusi.

“Kasih tahu dia, permintaan awalku sudah batal dan uang muka nggak bisa dikembalikan. Jika dia tetap ingin tempat itu, dia harus pesan ulang dengan harga sepuluh kali lipat karena pelanggaran kontrak.”

Bawahanku terengah.

“Kalau gitu Bos akan bunuh aku.”

“Nggak usah khawatir,” kataku singkat. “Dia akan bayar.”

Karena dia sangat butuh sebuah pertunjukan megah untuk tutupi skandal pribadinya.

Saat aku selesai urus semuanya, waktu sudah tunjukkan pukul dua dini hari. Aku putuskan nggak kembali ke rumah keluarga dan langsung menuju hotel dekat bandara. Di perjalanan, koordinator itu kirim pesan. Martin marah banget sampai hancurkan sebuah meja, namun tetap tanda tangani cek bernilai fantastis saat itu juga.

Aku tersenyum tipis, atur alarm, lalu tertidur lelap. Jadi aku nggak kaget ketika HP-ku dibanjiri panggilan dari Martin. Aku hanya matikan HP-nya dan kembali pejamkan mata. Sampai suara dentuman keras di pintu bangunkan aku.

“Hana Ginanjar! Buka pintunya!”

Dengar suara Martin yang penuh amarah, aku baru teringat aku lupa matikan pelacak lokasi kita.

Raungannya menggema di lorong. Bayangan Kirana yang jatuh dari tangga kembali melintas di pikiranku. Sepertinya sandiwara kegugurannya berhasil. Atau mungkin, dia sudah tahu balasanku melalui saham itu.

Dengan suara retakan keras, pintu kayu suite mewah itu ditendang hingga jebol oleh dua anak buahnya. Martin menerobos masuk, matanya merah, lalu seret aku dari tempat tidur dengan cengkeram pergelangan tanganku.

“Kamu bikin Kirana keguguran. Rahimnya rusak parah, dia nggak akan pernah bisa punya anak lagi. Dan kamu … kamu hanya berbaring di sini, tidur dengan tenang?”

Aku berusaha lepaskan diri.

“Lepaskan aku. Aku nggak dorong dia. Dia sendiri yang jatuhkan diri dari tangga.”

Namun Martin justru semakin kasar. Dia angkat aku ke bahunya dan seret aku turun ke mobil lapis baja yang sudah tunggu.

“Anak itu adalah segalanya bagi Kirana. Kenapa dia harus pertaruhkan tubuhnya sendiri seperti itu?”

Pintu terkunci, dan mobil melaju kencang menuju klinik pribadi keluarga. Dua anak buahnya paksa aku berlutut di depan ranjang rumah sakit tempat Kirana terbaring. Martin menatapku dari atas. Ekspresinya sempat goyah sekejap, lalu kembali membeku dingin.

“Hana, kamu tahu aku nggak ingin lakukan ini. Tapi kalau kamu berbuat salah, kamu harus terima konsekuensinya. Mintalah maaf ke Kirana. Lalu tandatangani perjanjian ini, serahkan yayasan senimu ke Kirana sebagai kompensasi.”
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 11

    Jam enam pagi, alarm di seluruh kediaman meraung keras. Toni bergegas masuk ke ruang kerja.“Nona Hana, Martin Kusuma ada di luar. Dia kepung kediaman ini dengan lebih dari dua puluh orang.”Aku bangkit dari sofa dan lihat deretan mobil hitam terparkir di depan gerbang. Joni berdiri di sampingku, nada suaranya tetap tenang.“Sepertinya dia sudah tahu tentang kejadian semalam.”“Biarkan dia masuk,” kataku sambil rapikan pakaianku.“Sudah waktunya akhiri semuanya.”Toni mengernyit.“Nona Hana, itu terlalu berbahaya.”“Nggak apa-apa,” ujar Joni sambil mengangguk ringan.“Biarkan dia masuk. Tapi cuma Martin.”Seperti yang diduga, nggak lama kemudian Martin terobos masuk ke ruang kerja. Matanya merah, jasnya kusut. Dia tampak seperti nggak tidur berhari-hari.“Hana, ayo pulang dengan aku,” kata Martin dengan suaranya yang serak.“Pelabuhan Purwoyita sedang kacau. Hanya aku yang bisa lindungi kamu.”Joni melangkah maju, berdiri di depanku, halangi jalan Martin.“Martin, keputusan itu sepenuh

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 10

    Aku tutup telepon dari Martin dan segera hubungi ibuku.“Bu, gimana situasi di Pelabuhan Purwoyita?”Suara ibuku terdengar lelah, seolah baru saja lewati badai panjang.“Hana, kamu sudah usik sarang lebah. Keluarga Kusuma lagi terjerat perang saudara. Paman Martin, Andi Kusuma, gunakan tiga puluh persen saham yang kamu jual untuk lancarkan langkahnya.”Genggaman tanganku pada HP jadi mengeras.“Sebenarnya apa yang sedang terjadi?”“Andi bilang Martin telah kehilangan haknya sebagai pewaris. Dia sedang memposisikan dirinya sebagai masa depan keluarga.”Ibuku berhenti sejenak sebelum lanjutkan, “Kepala mafia tua sedang sakit parah, dan Esther nggak mampu kendalikan situasi sendirian.”Dia pun tarik napas berat.“Keluarga-keluarga lain hanya nonton, tunggu arah angin berubah.”Aku hampir bisa cium bau darah di udara.“Apa lagi?” desakku.“Andi lihat kamu sebagai kunci untuk jatuhkan Martin dan Ketua Mafia tua.” Nada suara ibuku berubah serius.“Hana, keluar dari Kota Anca! Sekarang! Kemba

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 9

    “Tutup tirainya,” kataku ke asistenkku.“Dan suruh seseorang putus listrik layar konyol di seberang itu.”Di luar jendela kantorku, layar LED raksasa di gedung seberang, yang baru saja Martin beli, tayangkan video permintaan maafnya tanpa henti, 24 jam penuh. Wajahnya tampak kusut, matanya basah oleh air mata. Penolakanku sama sekali nggak sadarkan dia.Martin pilih satu-satunya cara yang dia tahu untuk rebut kembali hati seorang wanita, lemparkan uang ke dalam masalah. Dia bahkan suap semua manager di semua restoran favoritku untuk kabarin dia kalau aku datang, hanya untuk ciptakan momen “kebetulan” ketemu.Asistenku serahkan sebuah tablet.“Nyonya, Pak Martin baru saja akuisisi perusahaan pesaing kita dalam proyek lingkungan itu, dengan harga jauh di atas pasar. Perwakilannya bilang dia ingin serahkan seluruh proyek itu ke kamu, tanpa biaya.”Aku bahkan nggak lirik layar itu.“Tolak,” kataku dingin.“Dan segera keluarkan pernyataan publik. Perusahaan kita tolak segala bentuk investas

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 8

    Itu adalah rekaman dari CCTV tersembunyi yang aku tanam di lorong kondominium. Dalam video itu terlihat jelas aku berdiri diam nggak gerak, sementara Kirana teriak histeris dan jatuhkan dirinya sendiri dari tangga spiral, penuh drama murahan.Ucapan-ucapan kejam yang dia lontarkan ke aku saat Martin pergi, kini bergema kembali, kata demi kata, di ruang rumah sakit yang sunyi. Martin yang sudah ada di ambang batas kesabarannya, dorong Kirana menjauh ketika dia coba raih Martin kembali.“Keluar!”Kirana menatap tatapan dingin itu dan membeku, isakan tertahan di tenggorokannya.“Martin, aku lakukan semua ini karena aku sangat cinta kamu.”“Waktu kita masih kecil, kamu janji akan nikah dengan aku waktu kita dewasa. Tapi kamu ingkari janji itu. Kamu malah jatuh cinta ke wanita lain .…”“Aku nggak pernah ingin rusak segalanya untuk kamu. Tapi kamu yang selalu kasih aku perlakuan istimewa. Setiap kali aku telepon, kamu tinggalkan semuanya. Kamu manjakan aku, turuti semua keinginanku. Kalau ka

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 7

    Wajah Kirana memucat, pucat pasi, saat dia mati-matian coba sangkal itu.“Itu bohong! Aku nggak seperti itu! Aku hamil anak Martin!”“Itu Hana! Dia yang kejam! Dia dorong aku dari tangga dan sebabkan keguguran ini. Dokter bilang aku ….”“Terus kamu akan bilang rahimmu rusak parah sampai harus diangkat hari ini juga?”Esther potong ucapannya dengan tajam. Tubuh Kirana langsung goyah. Dia gigit bibirnya, matanya berkaca-kaca saat menatap Martin.“Martin, ibumu selalu rendahkan aku, tapi gimana mungkin aku tahu semua sejarah keluarga yang dia ungkit itu?”Kirana bertaruh pada ketidaktahuan pewaris muda itu terhadap masa lalu keluarganya sendiri. Namun Esther nggak semudah itu ditipu. Dia melangkah maju dan cengkeram lengan Kirana.“Entah organ itu diangkat sepuluh tahun lalu atau hari ini, sekali ke rumah sakit semua akan jelas.”Tentu saja, Kirana nggak berani terima tantangan itu.Dia pegangi perutnya dengan panik, kepalanya terkulai ke samping, lalu jatuhkan diri seolah pingsan. Sandiw

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 6

    Aku berdiri terpaku, HP masih tergenggam di tangan, benar-benar kehilangan kata-kata. Semua ini rasanya konyol, sangat menggelikan. Namun kebenaran itu sudah nggak penting lagi bagiku.Esther rupanya belum tutup sambungan telepon, karena suaranya kembali terdengar tajam dari seberang.“Hana, kamu nggak boleh naik pesawat itu. Aku sedang selesaikan ini sekarang. Aku nggak akan biarkan nama Kusuma diinjak-injak. Gadis itu benar-benar cerminan ibunya yang haus status.”Panggilan terakhir boarding menggema, minta para penumpang matikan perangkat elektronik. Tanpa ragu, aku putuskan sambungan. Saat layar HP menggelap, samar-samar aku masih dengar suara Martin yang bergetar.“Ibu … yang kamu bilang itu beneran?”Namun kebenaran itu sudah nggak tarik perhatianku lagi. Apa Kirana beneran hamil, anak siapa yang dia kandung, semua itu sudah nggak berarti lagi.Aku pejamkan mata, pikiranku justru mulai dipenuhi rencana-rencana untuk masa depan. Selama ini, aku korbankan ambisiku demi kerja sama k

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status