공유

Bab 3

작가: Shirley
Kondominium ini punya pemandangan luas menghadap ke Pelabuhan Purwoyita, seharusnya ini jadi rumah pernikahan kita, tempat yang kupilih sendiri untuk kita berdua. Setiap sudutnya pantulkan kehidupan yang dulu aku bayangkan akan kami jalani bersama.

Kini, setiap jengkal ruangnya terasa seperti pisau yang diputar perlahan di dalam perutku. Aku nggak punya banyak barang di sini. Bahkan nggak sampai penuhi satu koper. Namun, yang harus dibuang justru jauh lebih banyak daripada yang layak disimpan.

Hari sudah malam saat aku selesai berkemas. Di layar HP, aku lihat deretan panggilan nggak terjawab dari Martin. Aku nggak perlu tebak alasannya. Dia pasti telepon untuk marahin aku karena laporkan dia ke Esther.

Aku lempar kartu akses ke meja dekat pintu, bersiap masukkan kotak kristal berisi foto-foto kita ke dalam penghancur kertas. Namun tiba-tiba, pintu terbuka dengan keras, Martin dan Kirana terobos masuk. Kotak kristal itu jatuh dan pecah di lantai, serpihannya beterbangan ke segala arah.

Salah satu pecahan kaca gores pergelangan kakiku, dan darah langsung mengalir. Martin dengan refleks lindungi Kirana di belakangnya, suaranya rendah penuh tuduhan.

“Hana, kamu sudah gila yah? Nggak lihat Kirana berdiri di sana? Gimana kalau dia sampai luka?”

Martin sama sekali abaikan kakiku yang berdarah, malah berjongkok periksa apa gaun Kirana kotor. Aku nggak punya minat sedikit pun lihat dia manjakan wanita itu. Aku raih koperku dan berbalik pergi. Pemandangan koper di tanganku tampaknya buat dia tersentak. Martin segera berdiri dan cengkeram pergelangan tanganku.

“Hana, kamu mau ke mana?”

Saat aku hendak lepaskan diri, HP-nya berdering.

Nama Esther menyala di layar. Dia mengernyit, lalu jawab, “Sudah cukup. Aku sudah dengar. Semua akan berjalan sesuai rencana. Aku akan buat dia kerja sama. Sekarang nggak usah ikut campur.”

Setelah tutup telepon, Martin kembali menatapku, mata yang dulu buat aku jatuh cinta, sekarang terasa asing.

“Hana, ibuku sudah kasih perintah langsung. Pernikahan terbesar abad ini tetap berlangsung besok.”

Nada suaranya melunak.

Martin usap punggung tanganku dengan ibu jarinya, gerakan begitu familiar, cara lamanya untuk buat aku luluh.

“Sayang, bantu aku sekali lagi. Kita jalani upacaranya seperti rencana, tapi saat tiba pada sumpah pernikahan, kamu tinggalkan aku di altar. Oke?”

“Ibuku sangat sayang kamu. Kalau kamu yang tinggalkan aku, dia nggak bisa salahkan aku. Terus aku bisa bilang ke keluarga kalau aku nikahi Kirana karena marah setelah kamu permalukan aku di depan umum.”

Gelombang rasa terkejut menyapu diriku. Aku nggak percaya usulan seegois ini keluar dari pria yang telah aku dukung selama delapan tahun. Namun kemudian aku teringat, dia sudah jadi suami Kirana. Perhitungan kotor seperti ini memang sangat sesuai dengan sifat pengecut dan serakahnya. Apa pun yang Martin lakukan, sekarang nggak ada hubungannya lagi dengan aku. Lagian, aku memang akan pergi. Nggak ada salahnya kasih dia satu bantuan terakhir.

“Oke.”

Jawabanku mungkin terlalu cepat, hingga seolah dinginkan pikirannya yang semula panas. Akhirnya Martin sadar foto-foto yang berserakan di lantai, kenangan kita sejak pertama bertemu sampai sekarang. Martin juga lihat jejak darah merah yang mengalir dari pergelangan kakiku.

Kepanikan dan rasa bersalah sempat melintas di matanya sebelum dia bergegas ke ruangan lain, lalu kembali bawa kotak P3K. Begitu Martin pergi, Kirana bersandar di tangga spiral, dagunya terangkat menantang.

“Hana Ginanjar, kamu cuma pecundang yang nggak bisa terima kekalahan. Kamu tahu Martin milikku sekarang, tapi kamu masih ingin curi perhatian di upacara besok.”

“Lalu kenapa kalau wanita tua itu lindungin kamu? Pada akhirnya dia nggak akan bisa cegah keluarga terima aku.”

“Besok, semua mata akan tertuju ke aku. Gelar wanita paling berkuasa di Pelabuhan Purwoyita adalah milikku.”

“Dan kamu? Kamu akan dibuang seperti anjing liar.”

“Dan jangan pernah pikir Martin bakal balik lagi sama kamu setelah tiga tahun. Karena .…”

Kirana letakkan tangan di perutnya yang masih rata, senyum angkuhnya nggak terbendung.

“Bayi ini adalah pewaris sah Keluarga Kusuma.”

Aku menunduk, sembunyikan rasa perih yang tiba-tiba menggenang di mata. Selama ini aku memang benar. Sejak awal Martin telah bohongin aku. Sudah jelas anak itu milik siapa. Dan selama bertahun-tahun, dia perlakukan aku seperti orang bodoh, bahkan masih berani minta aku tunggu tiga tahun lagi.

Jika dihitung, waktu kehamilan itu tepat sekitar saat Martin pulang larut malam tanpa kabar. Itu pertama kalinya Martin lupakan hari jadi kita. Katanya, dia sibuk dengan urusan keluarga.

Keesokan paginya dia pulang, berbau alkohol dan kelelahan, lalu tekan aku ke jendela tinggi dari lantai hingga langit-langit, sentuh aku dengan gairah yang kasar, hampir seperti rasa putus asa.

Setelah itu, Martin lamar aku dengan berlian merah muda, janjikan pernikahan termegah abad ini. Katanya, kontrak pernikahan sudah diajukan ke Keluarga Ginanjar. Sebentar lagi, aku akan jadi pengantinnya. Aku telah tunggu delapan tahun untuk hari itu. Saat itu kegembiraan telan habis segala rasa gelisah dalam hatiku.

Namun malam itu, saat aku bawakan piyamanya setelah mandi, aku lihat jelas bekas merah gelap di dadanya.

Saat aku tanya, Martin sumpah kalau itu karena seekor kucing di rumah keluarga telah cakar dia. Dia bahkan tunjukkan catatan vaksin rabies hari itu sebagai bukti.

Aku cinta dia jadi aku pilih untuk percaya. Namun naluriku bilang aku sedang berdiri di atas es tipis. Ada suara kecil di dalam diriku yang terus peringatkan kalau alasan dia akhirnya nikahi aku hanyalah untuk tebus pengkhianatannya.

Aku cinta Martin dan karena itu, aku takut tahu kebenarannya. Aku nggak berani selidiki. Namun aku butuh kesetiaan mutlak darinya. Jadi pada akhirnya, aku gunakan jaringan intelijen keluargaku untuk lacak pergerakannya. Dan seperti yang aku duga, semua “pertemuan rahasia” dan “urusan keluarga” yang dia bilang berlangsung di apartemen Kirana.

Aku tunggu Martin untuk ngaku, untuk jujur ke aku dengan kemauannya sendiri. Itu sebabnya aku nggak kaget saat dia nggak datang ke makan malam gladi resik. Dan ketika Martin kirim pesan kalau dia akan nikah, aku hanya ikuti alurnya.

“Minggir.”

Aku nggak ingin buang satu napas pun lagi untuk Kirana. Aku cuma ingin pergi. Namun tepat saat Martin kembali dengan kotak P3K, Kirana tiba-tiba cengkeram pergelangan tanganku, menjerit nyaring lalu jatuhkan dirinya ke belakang, menggelinding turuni tangga panjang yang berkelok.
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 11

    Jam enam pagi, alarm di seluruh kediaman meraung keras. Toni bergegas masuk ke ruang kerja.“Nona Hana, Martin Kusuma ada di luar. Dia kepung kediaman ini dengan lebih dari dua puluh orang.”Aku bangkit dari sofa dan lihat deretan mobil hitam terparkir di depan gerbang. Joni berdiri di sampingku, nada suaranya tetap tenang.“Sepertinya dia sudah tahu tentang kejadian semalam.”“Biarkan dia masuk,” kataku sambil rapikan pakaianku.“Sudah waktunya akhiri semuanya.”Toni mengernyit.“Nona Hana, itu terlalu berbahaya.”“Nggak apa-apa,” ujar Joni sambil mengangguk ringan.“Biarkan dia masuk. Tapi cuma Martin.”Seperti yang diduga, nggak lama kemudian Martin terobos masuk ke ruang kerja. Matanya merah, jasnya kusut. Dia tampak seperti nggak tidur berhari-hari.“Hana, ayo pulang dengan aku,” kata Martin dengan suaranya yang serak.“Pelabuhan Purwoyita sedang kacau. Hanya aku yang bisa lindungi kamu.”Joni melangkah maju, berdiri di depanku, halangi jalan Martin.“Martin, keputusan itu sepenuh

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 10

    Aku tutup telepon dari Martin dan segera hubungi ibuku.“Bu, gimana situasi di Pelabuhan Purwoyita?”Suara ibuku terdengar lelah, seolah baru saja lewati badai panjang.“Hana, kamu sudah usik sarang lebah. Keluarga Kusuma lagi terjerat perang saudara. Paman Martin, Andi Kusuma, gunakan tiga puluh persen saham yang kamu jual untuk lancarkan langkahnya.”Genggaman tanganku pada HP jadi mengeras.“Sebenarnya apa yang sedang terjadi?”“Andi bilang Martin telah kehilangan haknya sebagai pewaris. Dia sedang memposisikan dirinya sebagai masa depan keluarga.”Ibuku berhenti sejenak sebelum lanjutkan, “Kepala mafia tua sedang sakit parah, dan Esther nggak mampu kendalikan situasi sendirian.”Dia pun tarik napas berat.“Keluarga-keluarga lain hanya nonton, tunggu arah angin berubah.”Aku hampir bisa cium bau darah di udara.“Apa lagi?” desakku.“Andi lihat kamu sebagai kunci untuk jatuhkan Martin dan Ketua Mafia tua.” Nada suara ibuku berubah serius.“Hana, keluar dari Kota Anca! Sekarang! Kemba

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 9

    “Tutup tirainya,” kataku ke asistenkku.“Dan suruh seseorang putus listrik layar konyol di seberang itu.”Di luar jendela kantorku, layar LED raksasa di gedung seberang, yang baru saja Martin beli, tayangkan video permintaan maafnya tanpa henti, 24 jam penuh. Wajahnya tampak kusut, matanya basah oleh air mata. Penolakanku sama sekali nggak sadarkan dia.Martin pilih satu-satunya cara yang dia tahu untuk rebut kembali hati seorang wanita, lemparkan uang ke dalam masalah. Dia bahkan suap semua manager di semua restoran favoritku untuk kabarin dia kalau aku datang, hanya untuk ciptakan momen “kebetulan” ketemu.Asistenku serahkan sebuah tablet.“Nyonya, Pak Martin baru saja akuisisi perusahaan pesaing kita dalam proyek lingkungan itu, dengan harga jauh di atas pasar. Perwakilannya bilang dia ingin serahkan seluruh proyek itu ke kamu, tanpa biaya.”Aku bahkan nggak lirik layar itu.“Tolak,” kataku dingin.“Dan segera keluarkan pernyataan publik. Perusahaan kita tolak segala bentuk investas

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 8

    Itu adalah rekaman dari CCTV tersembunyi yang aku tanam di lorong kondominium. Dalam video itu terlihat jelas aku berdiri diam nggak gerak, sementara Kirana teriak histeris dan jatuhkan dirinya sendiri dari tangga spiral, penuh drama murahan.Ucapan-ucapan kejam yang dia lontarkan ke aku saat Martin pergi, kini bergema kembali, kata demi kata, di ruang rumah sakit yang sunyi. Martin yang sudah ada di ambang batas kesabarannya, dorong Kirana menjauh ketika dia coba raih Martin kembali.“Keluar!”Kirana menatap tatapan dingin itu dan membeku, isakan tertahan di tenggorokannya.“Martin, aku lakukan semua ini karena aku sangat cinta kamu.”“Waktu kita masih kecil, kamu janji akan nikah dengan aku waktu kita dewasa. Tapi kamu ingkari janji itu. Kamu malah jatuh cinta ke wanita lain .…”“Aku nggak pernah ingin rusak segalanya untuk kamu. Tapi kamu yang selalu kasih aku perlakuan istimewa. Setiap kali aku telepon, kamu tinggalkan semuanya. Kamu manjakan aku, turuti semua keinginanku. Kalau ka

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 7

    Wajah Kirana memucat, pucat pasi, saat dia mati-matian coba sangkal itu.“Itu bohong! Aku nggak seperti itu! Aku hamil anak Martin!”“Itu Hana! Dia yang kejam! Dia dorong aku dari tangga dan sebabkan keguguran ini. Dokter bilang aku ….”“Terus kamu akan bilang rahimmu rusak parah sampai harus diangkat hari ini juga?”Esther potong ucapannya dengan tajam. Tubuh Kirana langsung goyah. Dia gigit bibirnya, matanya berkaca-kaca saat menatap Martin.“Martin, ibumu selalu rendahkan aku, tapi gimana mungkin aku tahu semua sejarah keluarga yang dia ungkit itu?”Kirana bertaruh pada ketidaktahuan pewaris muda itu terhadap masa lalu keluarganya sendiri. Namun Esther nggak semudah itu ditipu. Dia melangkah maju dan cengkeram lengan Kirana.“Entah organ itu diangkat sepuluh tahun lalu atau hari ini, sekali ke rumah sakit semua akan jelas.”Tentu saja, Kirana nggak berani terima tantangan itu.Dia pegangi perutnya dengan panik, kepalanya terkulai ke samping, lalu jatuhkan diri seolah pingsan. Sandiw

  • Dia Pergi Sehari Sebelum Aku Jadi Istrinya   Bab 6

    Aku berdiri terpaku, HP masih tergenggam di tangan, benar-benar kehilangan kata-kata. Semua ini rasanya konyol, sangat menggelikan. Namun kebenaran itu sudah nggak penting lagi bagiku.Esther rupanya belum tutup sambungan telepon, karena suaranya kembali terdengar tajam dari seberang.“Hana, kamu nggak boleh naik pesawat itu. Aku sedang selesaikan ini sekarang. Aku nggak akan biarkan nama Kusuma diinjak-injak. Gadis itu benar-benar cerminan ibunya yang haus status.”Panggilan terakhir boarding menggema, minta para penumpang matikan perangkat elektronik. Tanpa ragu, aku putuskan sambungan. Saat layar HP menggelap, samar-samar aku masih dengar suara Martin yang bergetar.“Ibu … yang kamu bilang itu beneran?”Namun kebenaran itu sudah nggak tarik perhatianku lagi. Apa Kirana beneran hamil, anak siapa yang dia kandung, semua itu sudah nggak berarti lagi.Aku pejamkan mata, pikiranku justru mulai dipenuhi rencana-rencana untuk masa depan. Selama ini, aku korbankan ambisiku demi kerja sama k

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status