LOGINSesampainya di koridor lantai atas apartemen mewah tersebut, langkah kaki Sintya dan Heri seketika terhenti tepat beberapa meter di depan pintu unit penthouse.Sintya terkejut bukan main ketika menangkap sosok wanita dengan gaun kasual bermotif bunga sedang berdiri bersandar di dekat pilar.Wanita itu tidak lain adalah Karin. Begitu menyadari kedatangan pemilik unit, Karin langsung menegakkan tubuhnya dan menerbitkan cengiran lebar pada Sintya sambil menyapa dengan nada cemprengnya yang khas."Hai, Sintya! Duh, akhirnya yang punya rumah pulang juga. Aku sudah lumayan lama nungguin kamu di sini," sapa Karin tanpa rasa bersalah, lalu melambaikan tangan halusnya yang dipenuhi perhiasan tipis."Karin?! Dari mana kamu tahu apartemenku ada di sini? Aku bahkan belum sempat kasih tahu siapa pun tentang kepindahanku!"Mendengar cecaran ketat dari Sintya, Heri yang berdiri kokoh di samping wanita itu langsung menoleh ke arah Karin dengan sorot mata elang yang menajam heran."Sintya, aku nggak k
Keesokan paginya, mendung tipis menggantung di langit Jakarta, seolah mewakili awan kelabu yang kembali menyelimuti pikiran Sintya.Di dalam mobil, wanita itu tak henti-hentinya meremas tali tas premiumnya dengan gelisah.Heri yang duduk di balik kemudi sesekali melirik dari sudut matanya, tetap fokus mengarahkan kendaraan membelah kemacetan menuju gedung Markas Kepolisian Resor.Sesampainya di sana, mereka langsung diarahkan menuju ruang penyidik Unit Harda. Suasana di dalam ruangan itu masih sama sibuknya dengan kemarin, namun raut wajah AKP yang menangani kasus mereka tampak jauh lebih tegang dari biasanya. Begitu Sintya dan Heri duduk di hadapannya, polisi paruh baya itu meletakkan sebuah map dokumen dengan desahan berat."Selamat pagi, Ibu Sintya, Mas Heri," sapa polisi itu dengan pelan namun sarat akan nada ketidaknyamanan.Ia lalu membetulkan posisi duduknya sebelum menyampaikan progres pencarian."Terkait perkembangan pencarian Saudara Reno setelah resmi masuk DPO kemarin... t
"Karin?" Heri menaikkan alisnya begitu melihat sosok wanita berkacamata hitam besar itu keluar dari mobil merahnya dan melangkah tergesa menuju warkop.Karin langsung melepas kacamata hitamnya, menatap Heri dengan binar mata penuh kelegaan yang dipaksakan. Ia langsung menyapa Heri dengan nada cemprengnya yang khas."Aduh, Heri! Akhirnya aku ketemu juga sama kamu di sini. Dari kemarin aku nyariin kamu, atau setidaknya nomor kamu yang bisa dihubungin!"Heri tidak bergerak dari kursinya. Ia menyesap sisa es kopinya dengan tenang, namun sorot mata elangnya meneliti ekspresi panik di wajah Karin.Maman di sampingnya hanya memperhatikan dengan senyum masam, tahu kalau wanita sosialita kelas tanggung ini pasti membawa drama baru."Maksudnya apa, Rin? Ada urusan apa kamu nyariin aku?" tanya Heri, suaranya bariton rendah, tanpa nada ramah yang berarti.Karin tidak memedulikan tatapan dingin Heri. Ia langsung menarik kursi plastik kosong di hadapan Heri dan duduk tanpa dipersilakan. Dengan gera
Siang itu, terik matahari ibu kota membakar aspal jalanan dengan begitu menyengat.Di sebuah warung kopi (warkop) sederhana yang terletak di bawah rindangnya pohon talas, tak jauh dari area butik Sintya, Heri dan Maman duduk berhadapan.Suasana warkop yang bising oleh suara klakson kendaraan seolah tidak mengganggu fokus kedua pria bertubuh tegap tersebut. Dua gelas es kopi susu instan dan sepiring pisang goreng hangat tersaji di atas meja kayu yang dilapisi taplak plastik.Maman menyeruput es kopinya dengan sekali sedotan kuat, membiarkan rasa dingin menyegarkan tenggorokannya yang kering. Ia kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Heri dengan binar mata yang dipenuhi antusiasme bisnis."Her, ada kabar segar ini," ujar Maman yang tampak bersemangat, memecah keheningan di antara mereka."Aku sudah keliling dari pagi, dan akhirnya aku sudah menemukan tempat yang sangat strategis dan bagus untuk membuka restoran baru untuk kamu!"Heri yang sedang memegang korek api langsung me
Sintya berjalan dengan langkah menghentak kasar menuju sofa panjang di dalam ruang kerja pribadinya.Begitu sampai, ia langsung mengempaskan tubuhnya dengan gusar, membiarkan punggungnya bersandar kasar pada bantalan kulit.Wajah cantiknya ditekuk dalam-dalam, dengan napas yang masih memburu akibat konfrontasi panas dengan mantan mertuanya beberapa menit yang lalu."Bener-bener nggak tahu malu! Datang ke sini cuma buat teriak-teriak nggak jelas!" menggerutu Sintya dengan nada kesal yang meluap-luap.Kemudian meremas bantal sofa di sampingnya seolah benda itu adalah wajah Herman dan Vina."Bisa-bisanya mereka memutarbalikkan fakta sepihak begitu? Aku yang dirugikan miliaran, aku yang diselingkuhi, tapi malah aku yang dibilang nggak tahu diri!"Heri yang sejak tadi menutup pintu ruangan dengan rapat agar para pegawai di luar tidak terganggu, perlahan melangkah menghampiri.Langkah kakinya yang konstan dan tanpa suara memberikan efek menenangkan yang instan di tengah badai emosi yang ber
Keesokan paginya, atmosfer di sekitar butik mewah milik Sintya kembali menegang. Jarum jam baru menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun ketenangan yang sempat terbangun pascaputusan sidang kemarin langsung porak-poranda.Tiga orang security baru yang berjaga di depan sempat menahan sepasang paruh baya berpenampilan perlente, namun karena mereka mengaku sebagai mertua Sintya, Mira terpaksa mempersilakan mereka masuk ke ruang tunggu utama.Heri yang sejak pagi berdiri memantau dari sudut koridor dalam langsung menajamkan pandangan taktisnya. Langkah kakinya bergerak tanpa suara, mengambil posisi protektif tepat di belakang Sintya yang baru saja keluar dari ruang kerja pribadinya.Di tengah ruang pajang gaun, orang tua Reno—Herman dan Vina sudah berdiri dengan wajah yang mengeras penuh keangkuhan.Begitu sosok Sintya tertangkap oleh sepasang mata mereka, Vina langsung melangkah maju dengan tergesa, menatap menantunya dengan pandangan penuh penghinaan.Tanpa memedulikan tatapan para pegawai
Heri menarik Sintya masuk lebih dalam ke dalam rumah mewah yang sunyi itu. Ia menendang daun pintu utama dengan tumit sepatu botnya hingga berdentum keras dan tertutup rapat, mengunci dunia luar bersama segala keributan tentang yayasan di balik dinding beton.Tanpa membuang waktu sepeser pun, Heri
Heri menekan Baskoro dengan suara baritonnya yang mengintimidasi, mengunci pandangan pria paruh baya itu agar tidak bisa mengelak lagi.Sembari menumpu kedua tangan kekarnya di atas meja marmer, Heri menyorongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak psikologis hingga Baskoro terpaksa bersand
Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n
“Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.







