MasukHeri berdecak kesal, rahangnya mengeras mendengar ucapan frontal Rahma yang hampir saja mengacaukan posisinya di depan Sintya. Dengan gerakan taktis, ia menepis pelan tangan Rahma dari pundaknya dan menatap mantan teman sekolahnya itu dengan sorot mata memperingatkan."Semua orang punya masa lalu, Rahma. Yang lalu biarlah berlalu, nggak usah diungkit lagi di sini," potong Heri dengan cepat dan tegas.Rahma pun terkekeh geli melihat kepanikan terselubung di wajah tegap Heri. Lalu mundur satu langkah sambil mengangkat kedua tangannya ke udara, tanda menyerah."Iya, iya, maaf. Galak banget sih sekarang, Her. Ya udah, aku pamit pergi dulu ya. Selamat menikmati makan siangnya, Sintya. Kamu beruntung dapetin Heri," ucap Rahma penuh sindiran sebelum akhirnya membalikkan badan dan berjalan menjauh membelah barisan meja restoran.Suasana di meja makan itu mendadak hening. Tensi yang ditinggalkan Rahma masih terasa pekat di udara. Heri melirik Sintya yang kini sedang menggeleng-gelengkan kepala
"Eh, Rahma. Apa kabar?"Heri tampak terkejut, rona kaku sempat melintas di wajah ketatnya sebelum ia berhasil menguasai ekspresi taktisnya kembali. Rahma, teman sekolahnya di SMA dulu di kampung, kini berdiri tegak di hadapannya di tengah restoran elit Jakarta dengan penampilan yang jauh berbeda.Gaun mini ketat yang membungkus lekuk tubuhnya memancarkan aura metropolis yang pekat, sangat kontras dengan memori gadis remaja berkuncir kuda yang diingat Heri belasan tahun lalu.Rahma menyunggingkan senyum lebar, melipat kedua tangannya di depan dada dengan gaya percaya diri. "Kabar baik, Heri. Nggak nyangka ya bisa ketemu di tempat kayak begini. Aku udah lama di sini, di Jakarta."Heri berdeham, mencoba mencairkan atmosfer yang mendadak beku di atas meja makan mereka. "Kerja di mana sekarang?" tanya Heri, matanya sedikit menyipit, membaca gerak-gerik wanita di depannya.Namun, Rahma tidak langsung menjawab dengan gamblang. Wanita itu hanya tersenyum penuh arti, memutar jemarinya di atas
Setelah keluar dari ruangan ber-AC di kantor hukum Pak Adit, beban di pundak Sintya tampaknya sedikit berkurang, meski ketegangan baru justru baru saja dimulai. Jam dinding di dasbor mobil menunjukkan waktu makan siang.Atas permintaan Sintya yang mendadak enggan pulang ke rumah karena keberadaan Reno, mereka memilih untuk makan siang terlebih dahulu di sebuah restoran mewah bernuansa fine dining di kawasan Senopati.Sebagai ajudan yang tahu diri, Heri awalnya hendak duduk di meja terpisah. Namun, tarikan kuat pada ujung safarinya dari tangan Sintya membuat pria tegap itu akhirnya mengalah dan duduk berhadapan langsung dengan sang nyonya besar di sudut ruangan yang cukup privat.Heri mengedarkan pandangan elangnya ke sekeliling restoran. Desain interior yang elegan, gemercik air mancur buatan di tengah ruangan, serta pelayanan kelas satu dari para pelayan berseragam rapi benar-benar memikat perhatian taktisnya.Sambil memotong daging steak di piringnya, Heri bilang kalau dia ingin pun
Besok paginya, pdengan pengacara Sintya terlaksana sesuai jadwal.Heri menemaninya dengan status sebagai ajudan pribadi kali ini, mengenakan setelan safari hitam yang pas di tubuh tegapnya, lengkap dengan earpiece yang terpasang di telinga kanan untuk memperkuat kesan profesional.Ia berdiri siaga di sudut ruangan bernuansa minimalis modern tersebut, tepat di belakang kursi kulit tempat Sintya duduk.Di seberang meja kaca yang luas, Pak Adit, seorang pengacara senior berambut keperakan dengan tatapan mata yang tajam, membuka berkas tebal yang dibawa Sintya.Sintya menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai suaranya yang sedikit bergetar sebelum kemudian menjelaskan secara rinci pada pengacara tersebut tentang semuanya alasan kenapa dia ingin bercerai. Seluruh kebusukan rumah tangganya dikuliti tanpa ada yang ditutupi lagi."Aku sudah nggak bisa melanjutkan ini lagi, Pak Adit," buka Sintya, jemarinya bertautan erat di atas pangkuannya."Reno sudah keterlaluan. Dia bukan cuma selingku
Heri menggeram rendah, suara baritonnya yang pecah bergaung di sudut ruang kerja yang temaram. Ia mengumpat pelan saat batang miliknya yang sudah menegang sempurna dilahap habis oleh Sintya tanpa ragu.Sensasi hangat dan basah yang menjepit erat kejantannya seketika mengirimkan sinyal sengatan listrik langsung ke pusat sarafnya.Melihat bagaimana Sintya begitu menikmati miliknya, dengan mata mendongak sayu dan pipi yang mengempis dalam setiap hisapan dalam, gelora hasrat Heri semakin menggebu-gebu hingga ke titik terlari.Rasa dominasi sebagai seorang pria jalanan membuncah hebat. Kedua tangan kekarHeri bergerak taktis maju, menjambak lembut namun mantap rambut panjang Sintya yang acak-acakan, lalu mulai memaju-mundurkan kepala wanita itu demi memperdalam tekanan di tenggorokannya."Sial, Sintya... pinter banget mulut kamu," bisik Heri dengan napas memburu panas, urat-urat di lehernya menonjol kaku menahan pelepasan yang terlalu dini.Sintya hanya membalas dengan erangan tertahan di
Sebagai pria normal yang memiliki gejolak seliar pria jalanan, tentu saja Heri tak bisa menahan diri untuk menolak Sintya yang terus menggodanya dengan cara seberani itu.Sumpah serapah taktis dalam kepalanya menguap begitu saja saat jemari lentik Sintya sudah membuka ritsleting celana dinasnya dengan gerakan yang menuntut.Bibir mereka kembali saling melumat, bertukar saliva dalam tempo yang kian memburu hingga membuat suasana di dalam ruangan kerja yang semula formal itu jadi semakin intim.Ruangan itu kini dipenuhi oleh deru napas berat yang berkejaran, diiringi dengan desahan Sintya yang benar-benar membuat Heri semakin kehilangan kendali atas akal sehatnya.Tanpa membuang waktu lagi, Heri mencengkeram pinggang ramping Sintya, mengangkat tubuh wanita itu dengan satu sentakan kuat, lalu mendudukkan Sintya ke meja kerja jati milik Reno.Kertas-kertas hasil print-an foto perselingkuhan Reno bergeser berantakan di bawah beban tubuh Sintya, namun tak ada satu pun dari mereka yang pedul
Sintya mendongak, menatap Heri yang bermuka masam dengan napas yang memburu kesal. Bukannya merasa bersalah atau ketakutan karena rahasia mereka hampir terbongkar, wanita itu malah mendengus kasar. Rasa paniknya setelah kepergian Reno mendadak berubah menjadi luapan amarah yang meledak."Kamu pikir
Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun
“Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit
Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu







