Share

BAB 103

Author: Nona Mentari
last update publish date: 2026-06-30 17:05:32

Tut... tut... tut...

Suara nada putus dari sambungan interlokal itu bergema pendek, menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam kamar tidur utama berlantai marmer tersebut. Setelah telepon terputus, Sintya melempar ponselnya ke lantai hingga layar pintarnya retak seribu, memantulkan sisa cahaya putih yang meredup di dekat kaki ranjang.

Detik berikutnya, seluruh pertahanan emosional wanita kaya itu runtuh total. Ia langsung menubruk dada bidang Heri, menangis tersedu-sedu sambil meremas pundak k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 161

    Sesampainya di koridor lantai atas apartemen mewah tersebut, langkah kaki Sintya dan Heri seketika terhenti tepat beberapa meter di depan pintu unit penthouse.Sintya terkejut bukan main ketika menangkap sosok wanita dengan gaun kasual bermotif bunga sedang berdiri bersandar di dekat pilar.Wanita itu tidak lain adalah Karin. Begitu menyadari kedatangan pemilik unit, Karin langsung menegakkan tubuhnya dan menerbitkan cengiran lebar pada Sintya sambil menyapa dengan nada cemprengnya yang khas."Hai, Sintya! Duh, akhirnya yang punya rumah pulang juga. Aku sudah lumayan lama nungguin kamu di sini," sapa Karin tanpa rasa bersalah, lalu melambaikan tangan halusnya yang dipenuhi perhiasan tipis."Karin?! Dari mana kamu tahu apartemenku ada di sini? Aku bahkan belum sempat kasih tahu siapa pun tentang kepindahanku!"Mendengar cecaran ketat dari Sintya, Heri yang berdiri kokoh di samping wanita itu langsung menoleh ke arah Karin dengan sorot mata elang yang menajam heran."Sintya, aku nggak k

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 160

    Keesokan paginya, mendung tipis menggantung di langit Jakarta, seolah mewakili awan kelabu yang kembali menyelimuti pikiran Sintya.Di dalam mobil, wanita itu tak henti-hentinya meremas tali tas premiumnya dengan gelisah.Heri yang duduk di balik kemudi sesekali melirik dari sudut matanya, tetap fokus mengarahkan kendaraan membelah kemacetan menuju gedung Markas Kepolisian Resor.Sesampainya di sana, mereka langsung diarahkan menuju ruang penyidik Unit Harda. Suasana di dalam ruangan itu masih sama sibuknya dengan kemarin, namun raut wajah AKP yang menangani kasus mereka tampak jauh lebih tegang dari biasanya. Begitu Sintya dan Heri duduk di hadapannya, polisi paruh baya itu meletakkan sebuah map dokumen dengan desahan berat."Selamat pagi, Ibu Sintya, Mas Heri," sapa polisi itu dengan pelan namun sarat akan nada ketidaknyamanan.Ia lalu membetulkan posisi duduknya sebelum menyampaikan progres pencarian."Terkait perkembangan pencarian Saudara Reno setelah resmi masuk DPO kemarin... t

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 159

    "Karin?" Heri menaikkan alisnya begitu melihat sosok wanita berkacamata hitam besar itu keluar dari mobil merahnya dan melangkah tergesa menuju warkop.Karin langsung melepas kacamata hitamnya, menatap Heri dengan binar mata penuh kelegaan yang dipaksakan. Ia langsung menyapa Heri dengan nada cemprengnya yang khas."Aduh, Heri! Akhirnya aku ketemu juga sama kamu di sini. Dari kemarin aku nyariin kamu, atau setidaknya nomor kamu yang bisa dihubungin!"Heri tidak bergerak dari kursinya. Ia menyesap sisa es kopinya dengan tenang, namun sorot mata elangnya meneliti ekspresi panik di wajah Karin.Maman di sampingnya hanya memperhatikan dengan senyum masam, tahu kalau wanita sosialita kelas tanggung ini pasti membawa drama baru."Maksudnya apa, Rin? Ada urusan apa kamu nyariin aku?" tanya Heri, suaranya bariton rendah, tanpa nada ramah yang berarti.Karin tidak memedulikan tatapan dingin Heri. Ia langsung menarik kursi plastik kosong di hadapan Heri dan duduk tanpa dipersilakan. Dengan gera

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 158

    Siang itu, terik matahari ibu kota membakar aspal jalanan dengan begitu menyengat.Di sebuah warung kopi (warkop) sederhana yang terletak di bawah rindangnya pohon talas, tak jauh dari area butik Sintya, Heri dan Maman duduk berhadapan.Suasana warkop yang bising oleh suara klakson kendaraan seolah tidak mengganggu fokus kedua pria bertubuh tegap tersebut. Dua gelas es kopi susu instan dan sepiring pisang goreng hangat tersaji di atas meja kayu yang dilapisi taplak plastik.Maman menyeruput es kopinya dengan sekali sedotan kuat, membiarkan rasa dingin menyegarkan tenggorokannya yang kering. Ia kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Heri dengan binar mata yang dipenuhi antusiasme bisnis."Her, ada kabar segar ini," ujar Maman yang tampak bersemangat, memecah keheningan di antara mereka."Aku sudah keliling dari pagi, dan akhirnya aku sudah menemukan tempat yang sangat strategis dan bagus untuk membuka restoran baru untuk kamu!"Heri yang sedang memegang korek api langsung me

  • Jatah Malam Nyonya Besar   Bab 157

    Sintya berjalan dengan langkah menghentak kasar menuju sofa panjang di dalam ruang kerja pribadinya.Begitu sampai, ia langsung mengempaskan tubuhnya dengan gusar, membiarkan punggungnya bersandar kasar pada bantalan kulit.Wajah cantiknya ditekuk dalam-dalam, dengan napas yang masih memburu akibat konfrontasi panas dengan mantan mertuanya beberapa menit yang lalu."Bener-bener nggak tahu malu! Datang ke sini cuma buat teriak-teriak nggak jelas!" menggerutu Sintya dengan nada kesal yang meluap-luap.Kemudian meremas bantal sofa di sampingnya seolah benda itu adalah wajah Herman dan Vina."Bisa-bisanya mereka memutarbalikkan fakta sepihak begitu? Aku yang dirugikan miliaran, aku yang diselingkuhi, tapi malah aku yang dibilang nggak tahu diri!"Heri yang sejak tadi menutup pintu ruangan dengan rapat agar para pegawai di luar tidak terganggu, perlahan melangkah menghampiri.Langkah kakinya yang konstan dan tanpa suara memberikan efek menenangkan yang instan di tengah badai emosi yang ber

  • Jatah Malam Nyonya Besar   Bab 156

    Keesokan paginya, atmosfer di sekitar butik mewah milik Sintya kembali menegang. Jarum jam baru menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun ketenangan yang sempat terbangun pascaputusan sidang kemarin langsung porak-poranda.Tiga orang security baru yang berjaga di depan sempat menahan sepasang paruh baya berpenampilan perlente, namun karena mereka mengaku sebagai mertua Sintya, Mira terpaksa mempersilakan mereka masuk ke ruang tunggu utama.Heri yang sejak pagi berdiri memantau dari sudut koridor dalam langsung menajamkan pandangan taktisnya. Langkah kakinya bergerak tanpa suara, mengambil posisi protektif tepat di belakang Sintya yang baru saja keluar dari ruang kerja pribadinya.Di tengah ruang pajang gaun, orang tua Reno—Herman dan Vina sudah berdiri dengan wajah yang mengeras penuh keangkuhan.Begitu sosok Sintya tertangkap oleh sepasang mata mereka, Vina langsung melangkah maju dengan tergesa, menatap menantunya dengan pandangan penuh penghinaan.Tanpa memedulikan tatapan para pegawai

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 42

    Heri terkekeh pelan melihat guratan cemas yang bercampur jengkel di wajah Sintya. Ia tahu betul bagaimana cara menjinakkan wanita sosialita yang sedang terbakar cemburu seperti ini.Dengan gerakan lambat yang sengaja menggoda, Heri meraih jemari Sintya yang mencengkeram dadanya, lalu mengecup ujung

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 7

    Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 6

    “Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 5

    Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status