Sintya terkekeh sinis mendengarkan pertanyaan Heri. Ia melipat kedua tangannya di dada, lalu menyandarkan punggung ke jok kulit dengan tatapan yang kembali angkuh, namun ada binar liar di matanya."Menyesal? Nggak ada waktu buat menyesal, Her," sahut Sintya sembari menggelengkan kepalanya perlahan. Wanita itu memajukan tubuhnya, menatap Heri dari celah kursi depan."Untuk saat ini aku cuma ingin dipuaskan. Toh, Mas Reno nggak pernah bisa bikin aku puas kayak yang kamu lakuin ke aku selama ini. Dia itu egois, cuma mikirin dirinya sendiri."Heri tersenyum lebar mendengar pengakuan jujur dari bibir manis majikannya. Ego kelelakiannya melambung tinggi ke langit ke tujuh. Kepuasan bahwa ia berhasil mengalahkan seorang pengusaha kaya raya dalam urusan ranjang membuat dadanya membusung bangga."Ya sudah kalau itu mau kamu, Sintya. Aku bakal pastiin kamu nggak akan pernah kekurangan jatah," jawab Heri santai, langsung menginjak pedal gas dan membawa Alphard putih itu membelah jalanan malam Ja
Baca selengkapnya