Jantung Heri berdegup kencang, namun dengan kecepatan kilat, ia menarik tangannya dari balik rok Sintya dan pura-pura mengencangkan baut pipa gas menggunakan kunci inggris. Gerakannya yang taktis berhasil menyelamatkan mereka dari bencana.“Ini, Bi... klem selangnya agak longgar sedikit, jadi bau gasnya keluar. Tapi sekarang udah beres kok,” jawab Heri sesantai mungkin, meski punggungnya sudah basah kuyup oleh keringat dingin.Sintya berdehem, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu. “Ya sudah, Heri. Kamu boleh balik ke pos. Bi Sumi, tolong bawakan jusnya ke ruang tengah.”Heri segera merangkak keluar dari bawah kolong meja dapur, mengangguk kaku, lalu melangkah cepat meninggalkan rumah utama.Jarinya yang basah oleh cairan Sintya diam-diam ia seka menggunakan saputangan di saku celananya. Gairahnya yang menggantung membuat kepalanya agak pening, namun ia harus tetap profesional di siang bolong.Namun, ketenangan Heri tidak bertahan lama. Sore harinya, sekitar jam empat, angin ke
Baca selengkapnya