Share

BAB 30

Author: Nona Mentari
last update publish date: 2026-05-31 13:15:24

Jantung Heri berdegup kencang bagai dihantam palu. Posisinya yang merapat di dinding marmer terasa sangat tidak aman. Dari balik celah pintu, terdengar langkah kaki Reno yang beralih mengitari area tempat tidur. Heri menajamkan pendengarannya, mencoba membaca situasi lewat suara di luar.

"Sintya! Ini kenapa barang belanjaan kamu berserakan di lantai begini? Kamu pulang langsung mandi, hah?" tanya Reno dari dalam kamar dengan nada heran yang kental.

Sintya melirik Heri dengan tatapan panik, namu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 86

    Heri langsung bergerak dengan efisiensi seorang predator yang mendeteksi ancaman terhadap mangsanya. Sebelum Sintya sempat melontarkan kata-kata tajam yang bisa memicu kecurigaan Tessa atau lebih buruk lagi, merusak reputasi sosialita mereka di depan kamera pengawas clubhouse, Heri melangkah maju."Nyonya Sintya," potong Heri dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar seperti seorang petugas yang patuh, namun matanya menatap Sintya dengan kilatan perintah yang absolut. "Kebetulan Anda di sini. Ada dokumen laporan keamanan lingkungan blok Anda yang perlu Anda tandatangani segera di kantor belakang."Tessa berdeham, menatap bolak-balik antara Sintya yang wajahnya memerah menahan berang dan Heri yang berdiri tegap tanpa cela. "Oh, kalau begitu aku duluan ya, Sintya. Jaga rumahmu baik-baik," sindir Tessa tipis sebelum melangkah pergi dengan tawa kecil yang tertinggal di udara.Begitu punggung Tessa menghilang di belokan koridor, Heri tidak membuang waktu. Ia mencengkeram len

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 85

    Heri menatap layar laptop Maman selama beberapa detik yang panjang. Otak taktisnya merekam nama "Gita" yang tertera jelas di samping nama Reno dalam manifes penerbangan eksekutif tersebut. Sebuah konspirasi di dalam konspirasi. Alih-alih panik, sebuah senyuman dingin justru perlahan terukir di sudut bibir Heri."Jadi, permainan suap-menyuap pagi tadi di depan pos jaga bukan cuma karena dia gatal," gumam Heri, suaranya sangat rendah, hampir menyerupai geraman serigala. "Gita sengaja memantauku untuk memastikan situasiku, atau dia memang lagi bermain di dua kaki.""Her, kamu nggak papa?" Maman menelan ludah, ngeri melihat ketenangan Heri yang tidak wajar. "Ini Nyonya Gita yang tadi kamu ceritakan menggodamu di pos, kan? Berarti Reno dan Gita... mereka main di belakang Sintya. Dan sekarang kamu di tengah-tengah.""Tetap jalankan rencana, Man. Jangan ubah satu hal pun," perintah Heri sembari berdiri dari kursinya. Ia merapikan jaketnya dengan satu sentakan kuat. "Kirim orang-orangmu ke Ba

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 84

    Heri melangkah keluar dari area klaster elit dengan langkah tegap, meninggalkan pos jaga setelah menyerahkan giliran kepada rekan sifnya. Ia mengambil cuti setengah hari, sebuah kelonggaran yang sengaja ia atur jauh-jauh hari dengan dalih urusan keluarga yang mendesak. Namun, tujuan sebenarnya jauh lebih krusial bagi masa depannya.Satu jam kemudian, Heri sudah berada di sebuah kedai kopi redup di pinggiran kota. Tempat itu pengap, berbau asap rokok tebal, dan dipenuhi suara bising kendaraan dari jalan raya di luarnya. Sangat kontras dengan keheningan mewah kompleks perumahan Reno. Di sudut paling gelap, seorang pria berkaos oblong dengan jaket kulit kusam melambaikan tangan. Itu Maman.Heri menarik kursi kayu di hadapan Maman, mengabaikan cangkir kopi hitam yang sudah mendingin di atas meja. Tanpa bertele-tele, Heri merogoh bagian dalam jaketnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang padat.Brak.Heri menjatuhkan amplop itu tepat di depan dada Maman. "Ini sebagian modal ua

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 83

    Heri tidak terpancing oleh kemarahan Sintya. Alih-alih panik atau melepaskan cengkeraman kasar wanita itu dari kerah seragamnya, ia justru menatap Sintya dengan senyum miring yang tenang, sebuah ketenangan yang mematikan.Dengan satu gerakan dominan yang cepat dan terukur, Heri mencengkeram pergelangan tangan Sintya, memutarnya dengan lembut namun mengunci pergerakannya, lalu mendorong tubuh ramping itu mundur hingga punggungnya membentur dinding di balik pilar taman yang tertutup rimbunnya pohon puring."Lepas, Heri! Kamu keterlaluan!" desis Sintya, mencoba meronta, namun tubuh kekar Heri sudah terlanjur mengungkungnya, menutup semua celah pelarian.Heri menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka mengikis habis.Napas hangat Heri menerpa kulit leher Sintya, membuat wanita itu seketika menahan napas. Heri menatapnya lurus-lurus, menggunakan tatapan matanya yang kelam dan intens untuk meredam histeria wanita kaya di hadapannya."Kenapa? Kamu cemburu melih

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 82

    Heri menarik napas panjang, menatap wanita yang masih gemetar di lantai semen yang lembap itu. Otak taktisnya langsung bekerja. Ia lalu berlutut, dan mencengkeram kedua bahu Sintya dengan cengkeraman yang kuat namun terukur, sebuah tindakan penegasan dominasi sekaligus penenangan."Tenang, Sintya. Pakai otakmu, jangan pakai ketakutanmu," bisik Heri, suaranya rendah dan tajam, menusuk langsung ke kesadaran Sintya."Reno tidak tahu apa-apa. Dia hanya curiga karena kamu tidak ada di ranjang. Kalau kamu terus bersikap seperti mayat hidup begini, justru itu yang akan membongkar semuanya."Sintya mendongak, matanya yang biasa memancarkan keangkuhan kini meredup rapuh. "Kamu tidak mengerti, Heri. Reno itu licik. Cara dia menatap pos ini tadi...""Aku yang menghadapi tatapannya, bukan kamu," potong Heri dingin. Ia membantu Sintya berdiri, merapikan gaun tidur wanita itu yang kusut dengan gerakan efisien."Sekarang, kembali ke rumah melalui pintu belakang seperti yang aku katakan tadi. Masuk k

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 81

    Heri melangkah keluar dari kamar kecil dengan tenang, mengunci pintu tripleks di belakangnya sebelum Reno sempat melongok ke dalam pos.Sambil membenarkan seragamnya yang sedikit kusut, memastikan kancing kerah dan sabuk kulit kopelnya terpasang rapi, Heri menyapa Reno dengan sikap formal yang dingin. Tatapannya lurus, menyembunyikan badai adrenalin yang sedang mengamuk di dalam dadanya."Malam, Pak Reno. Ada yang bisa saya bantu?" suara Heri memecah keheningan dini hari, terdengar berat dan datar, tipikal seorang petugas keamanan yang terjaga di posnya.Reno tidak langsung menjawab. Pria kaya itu berdiri di ambang pintu pos jaga yang terbuka separuh, mengenakan piyama sutra mahal dengan tangan kanan yang masih bertumpu pada gagang pintu besi luar.Matanya yang merah karena kurang tidur langsung menyapu interior pos yang sempit. Tatapannya tertuju pada kasur kapuk reot di sudut ruangan yang sprainya sedikit berantakan, lalu beralih perlahan ke arah Heri."Kamu tidak mendengar saya mem

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 44

    Heri tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Ia terus melangkah mendekat hingga posisinya kini berdiri tepat di samping sofa, menatap lurus ke bawah ke arah tubuh Sintya.Pada detik itulah, kedua mata Heri langsung menggelap sempurna. Seluruh fokus di isi kepalanya mendadak buyar, digantikan o

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 42

    Heri terkekeh pelan melihat guratan cemas yang bercampur jengkel di wajah Sintya. Ia tahu betul bagaimana cara menjinakkan wanita sosialita yang sedang terbakar cemburu seperti ini.Dengan gerakan lambat yang sengaja menggoda, Heri meraih jemari Sintya yang mencengkeram dadanya, lalu mengecup ujung

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 40

    "Nggak usah ngarang kamu, Her!" Sintya mencelos, matanya melotot tajam menatap Heri yang masih memamerkan senyum tipisnya. Wanita itu menoleh ke kanan dan kiri, memastikan Reno tidak mendadak muncul dari balik pintu kaca teras."Aku cuma nggak mau berbagi apa yang udah jadi milikku dengan orang lai

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 39

    Sintya sempat tertegun sesaat mendengarkan tuduhan telak yang keluar dari mulut Karin. Detak jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, memicu kepanikan yang hampir saja meruntuhkan topeng angkuhnya.Namun, sebagai wanita yang terbiasa bersandiwara di lingkungan sosialita, dengan cepat ia kembali me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status