Pagi harinya, jam delapan tepat, matahari menyirami kaca-kaca tinggi kantor pusat restoran Heri. Setelah menyelesaikan beberapa berkas laporan penjualan mingguan di meja kerjanya, Heri menekan tombol intercom di sebelah laptopnya."Man, ke ruangan aku sebentar," panggil Heri datar.Tidak sampai dua menit, pintu kayu tebal ruang kerja Heri didorong terbuka. Maman melangkah masuk membawa sebuah cangkir kopi hitam panas, lalu menutup pintu rapat-rapat. Pria berotot itu melangkah santai, menarik kursi kulit di depan meja Heri, dan langsung duduk bersedekap.Heri menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Maman dengan raut wajah serius."Gimana perkembangan di bawah?" tanya Heri langsung tanpa basa-basi. "Soal Mayang. Nggak ada kecurigaan atau hal aneh lainnya, kan?"Maman menggelengkan kepalanya dengan pelan. Ia menyeruput kopi hitamnya sedikit sebelum menjawab."Untuk saat ini sih aman-aman aja, Her. Anak-anak di bawah bilang dia datang paling pagi, rajin bersihin meja kasir, da
Read more