Di atas sofa kulit cokelat, Pak Kusuma, pria paruh baya bertubuh tambun dengan kemeja bermerek bernuansa mencolok, duduk dengan menyilangkan kakinya kasar.Wajahnya yang kemerahan memancarkan amarah yang meluap-luap, sementara tangannya tak berhenti menepuk-nepuk lengan kursi.Di sisinya, Ryan duduk menunduk sembari sesekali meringis, mengusap dadanya dengan wajah yang sengaja dibuat sepucat mungkin.Pak Wijaya, sang Kepala Sekolah, duduk di balik meja kerjanya dengan pelipis yang mulai dibasahi keringat dingin.Gertakan dan ancaman pencabutan dana sponsor proyek fasilitas sekolah yang terus dilontarkan Kusuma sejak sepuluh menit lalu benar-benar menekan posisinya."Saya tidak mau tahu, Pak Wijaya!" bentak Kusuma dengan suara serak yang memenuhi ruangan, memotong penjelasan guru piket."Anak ini jelas-jelas preman! Ryan ini anak baik-baik, anak penurut! Lihat dadanya sampai memar begitu karena diserang secara brutal! Hari ini juga, anak bern
Read more