”Udah lama nggak ketemu kamu, Sinta,” ucap Nadia sambil tersenyum tenang. Ia meletakkan minuman yang dibawanya ke atas meja, lalu duduk dengan posisi yang berjarak dari Sinta, tepat berhadapan dengan Ratu. ”Um... Iya, Nad. Dan... Aku ke sini...” Sinta menggantung kalimatnya, matanya melirik gelisah ke arah Rumi dan Ratu. ”Dia ke sini mau tunjukin hasil lab kamu, Nad. Kamu ternyata diam-diam berobat kejiwaan sama Sinta, teman kamu ini,” potong Ratu dengan nada triumfan, tak ingin kehilangan momentum. Nadia hanya tersenyum tipis menatap Ratu. ”Terus? Ada masalah kalau aku berobat?” ”Kamu mengakui, kan? Kamu itu stres!” seru Ratu, wajahnya menegang karena emosi. ”Ma,” tegur Rumi dengan suara serak, berusaha menghentikan ibunya. ”Mas, nggak apa-apa kok,” sela Nadia lembut. Ia kembali menatap Ratu dengan tatapan tajam. ”Aku akui aku stres, depresi, dan semua kegilaan itu ada sama aku. Apa Mama mau tahu kenapa itu harus terjadi sama aku?” Ratu mendengus sinis. ”Jelas kamu stres
Read more