“Mas... ah....”Rintihan Nadia tertahan di balik bantal, jemarinya mencengkeram sprei kuat-kuat. Tubuhnya menegang, menuntut pelepasan yang sudah di ambang mata. Namun, belum juga badai itu pecah, ia merasakan berat tubuh suaminya mendadak limbung di atasnya.“Udah ya,” Rumi mendesah panjang, napasnya memburu cepat sebelum akhirnya hening. Kepuasan itu datang terlalu pagi bagi sang istri.“Mas? Kenapa...?” Nadia terperanjat saat merasakan suaminya langsung menarik diri begitu saja. Padahal, miliknya masih berdenyut hebat, terasa kosong dan perih karena gantung tak berujung.“Aku udah bilang, aku capek. Kalau aku capek, aku nggak bisa lama-lama,” ucap Rumi datar, nyaris tanpa rasa bersalah. “Tapi, Mas... aku belum—”“Lagian punya kamu longgar banget, becek, nggak enak,” potong Rumi tajam, telak menghujam jantung Nadia.Kalimat itu seketika membungkam mulut Nadia. Matanya panas, ia teringat kejadian beberapa bulan lalu saat ia harus bertaruh nyawa melahirkan bayi prematur mereka yan
Zuletzt aktualisiert : 2026-05-05 Mehr lesen