“Kemarin? Nggak, Ma. Aku kan ke klinik,” ucap Nadia dengan senyum yang tampak natural, seolah ia sama sekali tidak merasa tertekan oleh pertanyaan itu.“Tapi kok tahu soal apartemen Bagas?” desak ibunya masih belum puas.“Ya... kan Mas Bagas cerita kemarin, Ma. Makanya aku bilang apartemen kemarin. Buahnya sudah nih, ayo kita bawa ke sana, Ma,” jawab Nadia tenang sambil mengalihkan topik pembicaraan.“Oh, iya, iya...” ucap ibunya, mengangguk pelan dan mencoba menekan jauh-jauh keraguan yang kembali menyelinap di pikirannya.Namun, drama tidak berhenti di sana. Saat mereka tiba di ruang tamu kamar VVIP itu, langkah Nadia mendadak terhenti. Perutnya terasa bergejolak hebat. “Masuk angin?” tanya Ibu Nadia khawatir. Sementara itu, Bagas dan Rumi, yang sudah mengetahui rahasia besar di balik rasa mual tersebut, saling pandang dengan tatapan yang penuh makna—keduanya tahu persis bahwa itu adalah efek kehamilan.“Mungkin, Ma. Duh... nggak enak banget...” Ucap Nadia yang merasakan gelombang m
اقرأ المزيد