登入Masih dengan memegangi gagang pintu, Belvara berpikir untuk mencari alasan yang masuk akal agar Ayana percaya. “Maksud Non Ayas, tadi kita lagi main Mama-mamaan dan Saya Mama dari boneka yang lagi di mainin Non Ayas,” jelas Belvara berdusta.Dan Ayas pun menutup mulutnya, ia sadar sudah salah memanggil Belvara di depan Ayana.Di sana terlihat Miranti pun menghampiri Ayas, dan merangkul cucunya itu. “Ayas, Kamu boleh kok panggil tante Ayan ini Mama, karena sebentar lagi juga dia akan jadi Mama Kamu.”Ayas menatap Ayana lekat-lekat, dengan wajah datar tak menampilkan ekspresi apapun. “Aku udah punya Mama, Kok Oma.”Miranti tertawa sumbang. “Kamu memang belum mengerti, Sayang.”“Udah lah, Bu. tidak perlu memaksakan Ayas, nanti pun dia akan ngerti sendiri, timpal Ayana. “Tapi, Bu, setelah Aku resmi jadi istri Mas Hagan pengasuh itu biar diberhentikan saja.”“Loh, kenapa? Dia bisa bantu urus Ayas kalau Kamu repot sama kerjaan.”“Aku kurang nyaman sama dai, Bu. yang ada nanti Ayas akan mala
Pintu itu pun dibuka Ayas dan anak itu sedikit mematung di ambang pintu. “Loh, Papa gak ada?”“Mungkin Papa sudah berangkat,” jawab Belvara seraya menenangkan. “Ayo ganti baju dulu.”Pintu kamar Hagan kembali Ayas tutup perlahan, bibir anak itu sedikit meruncing. “Kok, Papa berangkatnya gak pamit dulu sama Ayas?”“Ada yang perlu segera di kejakan, mungkin.” Dalam hati Belvara pun penuh tanya, kemana sebenarnya Hagan? Apa polisi membawanya saat langit bahkan masih gelap? Seperti buronan saja. Atau sebenarnya kesalahan Hagan cukup banyak? Hingga polisi berjaga saat langit masih gelap?Setelah mengganti seragam sekolahnya yang sempat ia kenakan tadi, Ayas kembali mengenakan pakaian santai rumahan, bermain slime bersama Belvara.Meski ia sedang menemani Ayas Bermain namun pikirannya seolah terus bertanya kemana Hagan? Apa iya di kantor polisi atau ada di kantor yayasan? Hingga ia menatap kosong slime yang ia remas-remas, tak mendengarkan Ayas mengoceh.“Ma, ke kantor Papa yuk.” Ajakan A
Dua polisi duduk di ruang tamu dengan Hagan di hadapannya, polisi itu memperlihatkan bukti yang sudah menyeret nama baiknya. “Ini video seorang remaja yang mengaku pernah jadi korban Bapak.” polisi itu memutur layar ponselnya ke arah Hagan.Hagan menatap layar ponsel itu dengan tatapan tajam, terlihat rahangnya kaku, cengkeraman tangannya di ponsel semakin kuat.“Ini tidak benar, Pak. bahkn Saya tidak mengenal anak itu.” pekik Hagan dengan intonasi tinggi.”Belvara duduk di kursi belajar kamar Ayas bisa mendengar itu, dan tepat suara tinggi Hagan itu terdengar oleh Ayas yang baru saja keuar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. “Papa kenapa itu, Ma?” “Bukan apa-apa, ayo sini pakai bajunya.” Belvara mengusap kepala Ayas yang masih basah dengan handuk lain yang tersampir di bahunya sejak tadi. Suara gaduh kembali terdengar, Ayas hampir saja membuka pintu kamarnya, namun Belvara lebi cepat meraih bahu anak itu, mengajak nya duduk di depan cermin untuk berdandan.“Belum nyisir,
Belvara dengan nafas yang masih tak beraturan, ia membersihkan diri, menggosok miliknya yang sedikit membengkak, permainan Hagan kali ini terlalu tergesa, membuat miliknya sedikit lecet, ia pun meringis saat air mulai mengguyurnya.‘Perih banget, jadi inget waktu main pertama kali di tempat camping, perihnya begini, aw…’ gumam Belvara.Di dalam kamar mandi ia menguping, meski tak terdengar jelas. Sampai kapan Miranti di sana? Ia harus segera kembali ke kamarnya, sebelum Tina bangun dan memberinya pertanyaan tidur dimana berulang kali, semakin sering kerabatnya bertanya seperti itu, tentu akan menimbulkan kecurigaan.Jantung Belvara seolah tak bisa dikoordinasikan, terus berdegup kencang, kedatangan Miranti yang tiba-tiba dan keadaan ia sedang bersama Hagan melakukan hubungan layaknya suami istri. Belvara pun mencari ponselnya, penasaran ingin tahu jam berapa sekarang?Tapi hawar-hawar terdengar Hagan dan Miranti masih berbicara, dan suara Miranti terdengar sedikit tinggi. Apa karena m
Lengan Hagan mencengkeram pinggang Belvara erat, begitu juga Belvara, lengannya ia kalungkan di leher sang suami, dan pria itu seolah tak mampu melepas pagutannya barang sesaat, mereka perlahan mundur menuju kamar mandi, dengan terus saling mencium satu sama lain, bertukar saliva dan saling menyesap.Nafas keduanya tersengal ketika Hagan mengakhiri ciumannya, sesaat mereka saling menatap, kemudian Hagan kembali mengecup bibir Belvara yang tebal dan sangat menggoda untuknya itu. “Tunggu, Saya isi air bathtub-nya dulu, Kamu pilih saja, wangi apa yang kamu sukai.”Belvara mulai melangkah, mendekat pada lemari kecil di pojok kamar mandi, membukanya, dan menampilkan beberapa bath bomb berbagai warna dan wangi. Namun Belvara meraih bath bomb dengan warna putih gading sedikit kecoklatan, mendekatkannya pada indra penciumannya, dan mencoba menghirup aroma itu.“Aku suka wangi yang in.” Belvara mengulurkan tangannya pada Hagan tanpa membalik tubuhnya yang masih menghadap lemari.Hagan tak hany
Malam kian larut, bahkan kini hari sudah berganti, rumor itu membuat Belvara tak bisa menutup mata bahkan untuk sekada beistirahat malam, gusr saat Hagan tak membalas pesannya, juga ia tahu, pria itu belum juga kembali ke kediamannya.‘Gimana ini?’ tanyanya pada diri sendiri, dengan ponsel yang ia genggam kuat-kuat, mondar-mandir di dalam kamar. Dalam sunyinya malam, ia berusaha untuk tetap bisa mendengar dan merasakan apapun yang bisa indra pendengarannya terima, Hanya untuk memastikan, ia bisa mendengar suara kendaaan Hagan atau apapun yang mengangkut Hagan, pia itu kembali kerumahnya dengan selamat.Jam sudah menunjukan pukul satu dini hari, ponselnya berdering memecah kegelisahannya, kakinya yang sejak tadi tak bisa diam pun terhenti, ia pandangi sesaat layar yang menyala, sebelum ia menggeser icon panggilan dan menempelkan ponsel itu di telinganya.“Hallo, ucap lembut Belvara.“Belvara…” suara Hagan terdengar parau.“Iya, Pak.” jawab Belvara “Kamu belum tidur?”“Belum. Bapak se
Bab 53Hagan sudah kembali dengan rutinitasnya, seperti biasa ia disibukkan dengan beberapa laporan tentang keuangan, dimana beberapa sekolah mengirimkan proposal untuk keperluan pengayaan sekolah.Hagan memijat pelipisnya, tatkala ia menghitung keuangan yayasan, frustrasi kembali melanda dirinya.
Camping yang harusnya meninggalkan kesan menyenangkan untuk Ayas, justru berakhir membuatnya pulang membawa bibir manyun sepanjang perjalanan. Kedatangan Miranti dan Ayana membuat akhir pekannya tak sesuai ekspektasinya. Mobil Hagan sudah kembali terparkir di carport kediamannya, ia membanting pin
Suara kicauan burung dan sinar matahari pagi yang hangatnya menembus dinding tenda tak mampu membuat sepasang orang dewasa yang semalam mengeluarkan peluh bersama itu terbangun, lelahnya peraduan mereka tak bisa ia hindarkan. Hingga Ayas yang lebih dulu terbangun, ia mendapati Hagan dan Belvara ter
Bab 50Segera tangan Belvara menyilang di depan dada, menutupi putingnya yang terlihat kuncup dibalik kemeja milik Hagan yang berbahan linen. Ia pun segera berbalik badan dan kembali kedalam tenda.Degup jantungnya menderu tak beraturan, ia duduk di sofa minimalis yang sedikit panjang hanya muat du







