"Coba pikirkan, aku yakin seharusnya kamu punya jawaban yang logis, Sasa. Dalam hubungan, bukannya wajar kalau menginginkan kepuasan seksual sebagai manusia normal, hem?" "Ah itu ... ya, memang wajar, Tuan." "Ya, kamu pun berpikir begitu kan. Karna setiap manusia punya nafsu, sudah ditakdirkan oleh Tuhan, bukan begitu?" Sasa mengangguk cepat, meskipun dia merasa tertekan. "Kamu yakin tidak mau menyangkal, Sasa?" "Me-Menyangkal? Apa maksudnya, Tuan?" "Mungkin saja, kamu mau menjawab kalau tidak semua manusia peduli nafsu. Bisa saja, mereka mementingkan perasaan mendalam, semacam cinta?" Sasa tersentak. "Apa? Maaf, maksudnya, itu juga benar, Tuan. Manusia punya nafsu, punya cinta juga, bisa saja dua hal itu saling berhubungan." Javendra meraih gelas wine yang ada di atas meja, lalu menyesap isinya sedikit demi sedikit dengan gerakan yang teramat santai. Ketegangan yang sempat terpancar dari auranya seolah menguap begitu saja, berganti dengan ketenangan yang justru terasa
閱讀更多