เข้าสู่ระบบkalau suka ceritanya boleh kasih ulasan bintang 5 nya ya, support terus supaya aku bisa lebih semangat update lebih banyak ^^
Amara beberapa kali berdiri untuk melihat pintu, lalu kembali duduk ketika tidak ada kabar. Ia tidak sanggup memikirkan hal lain. Perhatiannya hanya tertuju pada lampu merah di atas pintu ruang tindakan. Javendra bahkan tidak menyentuh ponselnya. Beberapa panggilan masuk, tetapi ia membiarkannya berdering. Untuk sementara, tidak ada urusan yang lebih penting daripada Sasa dan bayi mereka. Hampir satu jam kemudian, lampu indikator akhirnya padam. Javendra langsung menegakkan tubuh. Ketika pintu terbuka dan Dokter Rini keluar, ia segera menghampirinya. "Bagaimana keadaan mereka?" Dokter Rini tampak lelah, tetapi ekspresinya cukup tenang. "Kondisi Nyonya Sasa sudah stabil, Tuan. Janinnya juga masih dalam kondisi baik." Amara segera berdiri. "Sasa sudah aman, Dokter?" "Untuk saat ini, kondisinya stabil. Kami sudah melakukan pemeriksaan dan memberikan penanganan untuk mengurangi keluhannya. Namun, kami masih perlu memantau kondisinya." Amara mengembuskan napas panjang. Ta
Tidak lama kemudian, sedan hitam memasuki area rumah sakit dan berhenti tepat di depan pintu instalasi gawat darurat. Sebelum pengawal sempat membukakan pintu, Javendra sudah keluar lebih dahulu. Ia mengangkat tubuh Sasa dengan hati-hati, lalu membawanya masuk dengan langkah cepat. "Tolong istri saya! Dia sedang hamil dan mengalami nyeri hebat di bagian bawah perut!" Petugas medis segera mendekat dengan brankar. Dokter Rini dan beberapa perawat yang telah menerima pemberitahuan sebelumnya langsung bersiap menangani Sasa. "Letakkan Nyonya Sasa di sini, Tuan," ujar Dokter Rini. "Kami akan segera memeriksanya." Javendra menurunkan Sasa perlahan ke atas brankar. Ia masih menggenggam tangan istrinya ketika para perawat mulai mendorongnya menuju ruang tindakan. "Mas..." panggil Sasa dengan mata berkaca-kaca. Javendra berjalan di samping brankar. "Aku di sini." "Jangan jauh-jauh, aku takut, Mas Javen." Javendra membungkuk dan mengecup keningnya. "Aku tunggu di luar. Kamu tenang saj
Iring-iringan kendaraan Maheswara Group meninggalkan pelataran minimarket dan melaju menuju rumah sakit. Mobil pengawalan bergerak di depan, membuka jalan di tengah kemacetan, sementara beberapa kendaraan lain mengikuti sedan hitam yang membawa Javendra dan Sasa. Sopir berusaha menjaga kecepatan tanpa membahayakan kendaraan mereka, tetapi bagi Javendra, perjalanan itu terasa terlalu lama.Sejak meninggalkan minimarket, Javendra terus memeluk Sasa. Istrinya masih terlihat ketakutan. Wajahnya pucat, napasnya belum teratur, dan jemarinya mencengkeram kemeja Javendra seolah takut kehilangan pegangan. Javendra mengusap punggungnya perlahan, sesekali mengecup rambutnya sambil berusaha menahan kecemasan yang terus meningkat."Sebentar lagi sampai, Sayang," ucapnya pelan. "Bertahan sedikit lagi."Sasa mengangguk lemah tanpa mengangkat wajah. Javendra mengira istrinya masih terkejut akibat kejadian di minimarket, tetapi beberapa detik kemudian, tubuh Sasa mendadak menegang.Jemarinya mencengk
Sasa menyandarkan wajah ke dada Javendra. Ia bisa mendengar detak jantung suaminya yang jauh lebih cepat daripada biasanya. Baru saat itulah ia menyadari bahwa Javendra juga sangat ketakutan, meskipun sejak tadi pria itu tidak membiarkan kepanikannya menguasai keadaan. "Mas Javen..." bisiknya. "Iya, Sayang?" "Aku benar-benar takut." Javendra merapatkan pelukannya, lalu mencium puncak kepala Sasa. "Aku tahu. Maaf karena kamu harus mengalami ini." Ia tidak berusaha mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan bahwa semuanya sudah baik-baik saja. Ia tahu Sasa masih gemetar dan membutuhkan waktu untuk merasa aman kembali. Karena itu, ia membiarkan istrinya tetap berada dalam pelukannya selama beberapa saat, sambil memastikan para pengawal sudah mengendalikan keadaan di sekitar mereka. Amara yang sejak tadi menahan kecemasan akhirnya mendekat setelah salah seorang pengawal memberi isyarat bahwa situasi sudah terkendali. "Sasa..." Sasa mengangkat wajah ketika mendengar su
Bi Surti melirik Amara. Untuk sesaat, tampak keraguan di wajahnya. Namun, ketika melihat Sasa masih melindungi perutnya, ia kembali teringat pada alasan yang membuatnya nekat melakukan semua ini. "Kalian semua hanya peduli pada Sasa!" serunya. "Tidak ada yang peduli bagaimana kami hidup setelah dipecat!" "Ini bukan waktunya membicarakan itu!" jawab Amara. "Kamu bisa menyampaikan keluhanmu nanti. Sekarang, keselamatan Sasa yang harus diprioritaskan!" Bi Surti menggeleng, lalu menggerakkan pisau itu sedikit menjauh dari leher Sasa. Gerakannya kecil, tetapi cukup untuk membuat Javendra memperhatikannya. Ia tidak langsung mengambil kesempatan tersebut. Jarak mereka masih terlalu jauh, dan Bi Surti masih mencengkeram tubuh Sasa. Javendra lalu menatap Juwita. "Letakkan besi itu." Juwita tersentak. "Apa?" "Letakkan benda yang kamu pegang di lantai, lalu mundur." Nada bicara Javendra tidak berubah, tetapi kali ini ia tidak memberikan ruang untuk tawar-menawar. Juwita m
Amara terdiam sesaat. Perkataan itu mengingatkannya pada masa lalu yang tidak bisa ia ubah. Namun, ia tidak membiarkan penyesalan tersebut mengalihkan perhatiannya dari bahaya yang sedang mengancam Sasa. "Aku tidak akan membahas masa lalu sekarang," jawabnya tegas. "Yang jelas, Sasa adalah menantuku. Dia istri Javendra dan anggota keluarga Maheswara. Kamu tidak punya hak untuk menyakitinya." "Jadi, sekarang Nyonya sudah berada di pihaknya?" "Aku berada di pihak orang yang sedang kamu ancam dengan pisau!" Suara Amara bergetar, tetapi ia berusaha mempertahankan ketegasannya. "Surti, lihat keadaanmu sekarang. Kamu sedang menyandera seorang wanita yang tidak bisa bergerak bebas karena kamu menodongkan pisau ke lehernya. Apa kamu tidak sadar bahwa satu kesalahan saja bisa membuat keadaan menjadi jauh lebih buruk?" Bi Surti terdiam. Tatapannya sempat bergerak ke arah pisau di tangannya, lalu kembali kepada Amara. Juwita yang sejak tadi berdiri di samping mereka ikut menyela.
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel
Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi







