Masukkalau suka ceritanya boleh kasih ulasan bintang 5 nya ya, support terus supaya aku bisa lebih semangat update lebih banyak ^^
Sedan hitam mewah berpelat khusus itu meluncur mulus membelah jalan raya Bogor menuju arah Jakarta. Hujan gerimis mulai turun membasahi kaca luar, membiaskan pendar lampu jalanan menjadi deretan titik cahaya yang samar. Di dalam kabin mobil, suasana terasa begitu hangat dan tenang. Javendra menekan satu tombol di panel samping pintunya. Seketika, kaca pembatas tebal berwarna gelap perlahan terangkat naik dari batas kursi depan, menutup rapat akses pandang maupun pendengaran dari pengemudi dan pengawal yang berada di balik kemudi. Kabin belakang kini sepenuhnya menjadi ruang privat yang kedap suara. Sasa menyandarkan kepalanya di dada bidang Javendra. Rasa lelah bercampur lega membuncah di dalam dadanya usai melewati sesi makan siang yang penuh emosi dan adu gengsi sepanjang hari. "Mas..." panggil Sasa pelan, memainkan kancing kemeja Javendra dengan ujung jarinya. "Aku senang sekali hari ini." Javendra yang sedang mengusap bahu istrinya melirik ke bawah. "Senang karena apa, Sayang
Panggilan itu mengudara begitu halus di antara gemericik air kolam di luar paviliun. Sasa menunduk sebentar, meremas ujung porselen di tatakan cangkirnya dengan pipi yang mendadak bersemu hangat akibat rasa canggung yang mendadak menyerang. "I-iya... Kak Kenzo," bisik Sasa pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru angin sore. Kenzo mendadak kaku di tempat duduknya. Tubuhnya tegap seketika, dan matanya membelalak kecil menatap adiknya. Pria yang biasanya amat tenang memimpin ribuan karyawan itu mendadak mengedipkan mata beberapa kali, seolah telinganya baru saja menangkap hal asing yang belum pernah ia dengar sepanjang hidupnya. "Kamu... memanggilku apa tadi?" tanya Kenzo memastikan, suaranya sedikit terbata-bata. "Kak... Kak Kenzo," ulang Sasa, kali ini mendongak dengan senyum malu-malu yang makin lebar. "Kan tadi Kak Kenzo sendiri yang minta?" Sebuah tawa canggung namun sarat bahagia lolos dari bibir Kenzo. Pria itu membasahi bibirnya, berdeham pelan untuk menutupi rasa canggu
Javendra meletakkan cangkir porselennya ke tatakan dengan denting halus. Pria itu merapikan kerah kemejanya yang rapi, lalu bangkit berdiri dari kursi kayu berukir. Tangannya terulur mengusap puncak kepala Sasa dengan usapan lembut yang teramat protektif. "Aku ke ruang kerja paviliun dulu untuk memeriksa laporan pengamanan Tuan Aldebaran bersama pengawal," ujar Javendra santai. Sasa yang baru saja hendak menyendok potongan buah mendadak menghentikan gerakannya di udara. Matanya membelalak lebar, menatap suaminya dengan raut tidak percaya yang amat polos. "Mas... kamu serius?" tanya Sasa terbata-bata. "Kamu tinggalkan aku berdua saja dengan Kenzo? Tidak salah dengar?" Bukan cuma Sasa yang terkejut. Kenzo yang sedang memegang cangkir tehnya juga sempat tersentak kecil. Alis tebalnya terangkat tinggi, menatap Javendra dengan pandangan curiga seolah menanti ada jebakan di balik kebaikan mendadak pria Maheswara itu. Javendra menyunggingkan senyum tipis yang amat menyebalkan. Ia menun
Kenzo yang menyaksikan pemandangan itu menggelengkan kepala pelan. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Sasa dan Javendra secara bergantian. Di satu sisi, ia merasa kesal dengan dominasi Javendra yang begitu melekat pada adiknya. Namun di sisi lain, Kenzo tidak bisa memungkiri bahwa di balik pertengkaran kecil dan sifat cemburu yang berlebihan itu, ada ikatan yang sangat kuat dan tak tersentuh di antara mereka berdua. "Kalian berdua benar-benar membuat kepalaku pusing," celetuk Kenzo seraya meraih sepotong semangka dan memasukkannya ke dalam mulut. "Aku tidak menyangka adiku yang dulu lembut bisa jadi seberani ini menghadapi pria seperti Javendra." "Itu karena suamiku dan kakakku sama-sama keras kepala dan tidak mau mengalah!" balas Sasa sambil menghembuskan napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya yang terasa lemas ke sandaran kursi. Javendra menyunggingkan senyum tipis, mengulurkan tangannya untuk merengkuh kembali jemari Sasa yang berada di atas pangkuan. Kali
Seorang pelayan wanita dengan gerakan cermat mengganti cangkir kopi yang sudah mulai dingin dengan dua cangkir porselen berisi teh herbal hangat beraroma chamomile dan mint. Sementara itu, pelayan pria yang mengekor di belakangnya meletakkan sebuah piring kristal besar di tengah meja, berisi tumpukan potongan buah segar yang dipotong rapi. Sasa menghela napas lega saat perhatian kedua pria di sisinya teralih sejenak pada kedatangan para pelayan. Ia memanfaatkan jeda singkat itu untuk membenahi posisi duduknya, menarik nafas dalam-dalam demi menetralkan debar jantungnya yang sejak tadi dinaik-turunkan oleh tingkah Javendra dan Kenzo. Begitu para pelayan selesai menata meja dan melangkah mundur keluar dari paviliun, suasana santai yang diharapkan Sasa ternyata sama sekali tidak terwujud. Kenzo meraih garpu buah kecil berujung dua, menusuk sepotong kiwi yang tampak paling segar, lalu mengarahkannya ke piring kecil Sasa. "Makan buahnya, Sasa. Segar untuk meredakan pusingmu," ujar
Perang kata-kata di antara kedua pria berkuasa itu makin menunjukkan dominasi masing-masing. Udara di dalam paviliun kaca terasa kian berat, meski makanan penutup di atas meja porselen sudah hampir habis disentuh. Javendra menyandarkan punggungnya ke kursi kayu berukir. Satu tangannya yang bebas kini diletakkan santai di belakang sandaran kursi Sasa, merangkul bahu istrinya dari belakang dengan tatapan penuh kebanggaan dan kepemilikan. Sembari menatap Kenzo, tangan kiri Javendra yang tersembunyi di balik taplak meja mulai bergerak kembali. Kali ini, jemari panjangnya tidak menyusup ke area dalam. Javendra memilih mengusap lembut celah halus di belakang lutut Sasa, lalu perlahan merambat naik menyusuri kulit paha bagian belakang. Jemarinya menekan titik-titik sensitif di sana dengan lambat yang membuat seluruh tubuh Sasa mendadak kaku dan meremang hebat. "Kamu terlalu banyak berteori tentang wanita, Kenzo," ujar Javendra seraya menyunggingkan senyum tipis yang amat memancing emos
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel
Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi







