"Kamu boleh lemah, hanya di depan diriku saja." Sasa terdiam, meresapi setiap kata yang baru saja diucapkan oleh majikannya. Ia meremas pinggiran seragamnya, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa di dalam dirinya. Setelah sempat ragu beberapa saat, Sasa akhirnya memberanikan diri untuk mendongak, menatap langsung ke arah mata dingin Javendra. "Itu... bukan karena saya ingin menunjukkan kelemahan saya di depan Nyonya Amara, Tuan," sahut Sasa, suaranya sedikit bergetar namun ada nada ketegasan yang tertahan di sana. Javendra menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut mendengar pelayan mudanya ini berani menyahut ucapannya. "Lalu apa?" "Posisi saya di rumah ini adalah seorang pelayan," lanjut Sasa, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. "Saya hanya harus menunjukkan sisi di mana saya bisa tahu diri. Di depan Nyonya Amara, menunduk dan menerima teguran adalah satu-satunya hal yang paling benar untuk dilakukan oleh orang seperti saya."
Read more